Tujuh tahun setelah konfrontasi pertama, Lara terima telepon dari Indri.
"Lar."
"Indri."
"Lar. Saya... saya butuh ngobrol."
Lara meletakkan dokumen kerja-nya. Indri tidak biasa memulai dengan nada serius. Mereka ngobrol biasa—update keluarga, update kerja, gosip kantor—tapi tidak dengan nada ini.
"Indri. Apa?"
"Lar. Saya... saya bertemu Karina kemarin."
Lara hampir menjatuhkan telepon.
"Indri. Karina—"
"Lar. Karina mengontak saya. Bukan saya yang cari dia. Dia cari nomor saya lewat database lama dia—dia tahu saya yang investigasi tujuh tahun lalu, walaupun saya tidak pernah ketemu dia langsung."
"Apa yang dia mau?"
"Lar. Karina sekarang... keluar dari pekerjaan, sama seperti Bram. Dia juga sudah keluar tiga tahun lalu. Pindah ke Bali. Kerja di hotel."
"Indri. Apa hubungannya dengan saya?"
"Lar. Karina... Karina mau bicara dengan lo."
"Apa?"
"Lar. Dia bilang dia... dia ingin minta maaf. Untuk... untuk lo dan Bram."
Lara duduk di kursi mejanya di kantor. Pukul sebelas pagi, Selasa. Dia harus rapat dalam dua puluh menit, tapi sekarang kepalanya tidak di rapat.
"Indri. Saya... saya tidak yakin saya mau."
"Lar. Saya tahu. Saya cuma kasih lo opsi. Karina ke Jakarta minggu depan untuk wedding teman-nya. Dia mau bertemu lo, kalau lo mau. Kalau tidak, dia mengerti. Saya bilang ke dia saya akan tanya lo dulu."
Lara menutup matanya.
"Indri. Bram... Bram tahu Anda kontak saya?"
"Tidak, Lar. Saya pikir lo putuskan dulu sebelum cerita ke Bram."
"Indri. Saya... saya tidak tahu."
"Lar. Take your time. Karina di Jakarta tiga hari minggu depan. Sebelum dia balik Bali, kalau lo mau, kasih saya kabar."
***
Lara matikan telepon. Melanjutkan kerja, tapi tidak fokus. Rapat siang itu Lara hadir tapi tidak banyak bicara—rekan kerjanya kira dia capek.
Malam itu, di rumah Bintaro, Lara dan Bram makan malam. Rasya—yang sekarang 15—ke rumah teman untuk belajar kelompok untuk ujian tengah semester.
"Mas Bram."
"Iya."
"Indri telepon hari ini."
"Iya."
Bram menunggu. Dia sekarang lebih sabar—tujuh tahun rebuilding mengajarkan dia bahwa kalau Lara mulai dengan kalimat seperti itu, dia butuh ruang untuk menyelesaikan kalimatnya.
"Karina... Karina ingin bertemu saya."
Bram berhenti makan. Sendok di tangan.
"Lara—"
"Mas. Anda... Anda tahu Karina sekarang?"
"Lara. Tidak. Saya tidak kontak dia sejak tujuh tahun lalu, sejak saya keluar. Itu sumpah saya pada Anda dan saya patuh."
"Mas. Karina... dia juga keluar."
Bram diam. Memproses.
"Mas. Apakah Anda mau saya bertemu dia?"
"Lara. Itu pilihan Anda. Saya tidak punya hak meminta apa-apa."
"Mas. Tapi saya... saya tanya pendapat Anda. Sebagai suami. Bukan sebagai mantan rekan kerja Karina."
Bram berpikir. Memilih kata.
"Lara. Kalau Karina tulus minta maaf, saya... saya pikir Anda bisa pergi. Anda akan dapat closure yang Anda mungkin butuh. Saya tidak mau menutup pintu apa pun dari Anda."
"Mas. Apakah Anda... apakah Anda nyaman?"
"Lara. Saya nyaman. Saya tidak ada apa-apa lagi dengan Karina—tidak emosional, tidak profesional. Kami kolega selama lima tahun. Selesai. Sumpah."
Lara menatap Bram. Mata pria yang dia menikahi 13 tahun. Dua belas tahun sebagai "marketing manager Pratama Logistic." Satu tahun sebagai operatif intelijen yang dia tahu. Sekarang tujuh tahun sebagai VP marketing perusahaan e-commerce biasa. Total duapuluh tahun mengenal pria ini, dengan banyak versi.
Mata yang sekarang... bersih. Tidak ada lagi rahasia yang Lara bisa lihat. Mungkin Bram masih menyimpan beberapa hal—orang biasa juga punya rahasia kecil—tapi tidak ada yang besar.
"Mas. OK. Saya bertemu dia."
***
Lara bertemu Karina di kafe di Senopati seminggu kemudian. Tidak di restoran Italia—tempat itu masih Lara dan Bram. Di kafe lain, lebih casual.
Karina—sekarang 39, dengan rambut ditata sederhana yang berbeda dari foto-foto CCTV tujuh tahun lalu—datang dengan map di tangannya. Berdiri saat melihat Lara masuk.
"Mbak Lara."
"Mbak Karina."
Mereka duduk. Pesan kopi.
Karina menarik napas.
"Mbak Lara. Saya minta maaf."
"Mbak. Untuk apa?"
"Untuk... untuk berperan dalam menyembunyikan siapa Bram dari Anda. Untuk apartment Kemang. Untuk pekerjaan kami yang merusak hidup Anda selama dua belas tahun—lima tahun yang Anda tidak tahu sebelum konfrontasi, dan tujuh tahun yang Anda menderita karena tahu."
Lara menatap Karina.
"Mbak Karina. Anda... Anda ada hubungan dengan Bram?"
"Tidak, Mbak. Sumpah. Bram dan saya cuma rekan kerja. Saya tahu Bram mencintai Anda—dia bicara tentang Anda kadang, walaupun dilarang. Saya tahu sejak hari kelima kami kerja bersama."
"Mbak."
"Mbak Lara. Saya cuma mau Anda tahu—Bram tidak mengkhianati Anda dengan saya secara fisik. Tapi dia mengkhianati Anda dengan kebohongan tentang siapa dia. Untuk itu, saya tidak ada peran kecil—saya satu-satunya yang tahu seluruh kebohongan, dan saya membantu menyembunyikan dari Anda."
Lara menelan ludah.
"Mbak Karina. Kenapa Anda keluar?"
"Mbak. Setelah Anda menemukan, dan Bram memutuskan keluar, saya... saya juga sadar saya tidak bisa terus. Saya melihat apa yang Bram ambil sebagai pilihan—keluarga, Anda, Rasya—dan saya... saya tidak punya itu. Saya tiga puluh dua waktu itu. Single. Tidak punya pacar. Tidak punya keluarga inti—orang tua sudah meninggal, saudara saya satu di luar negeri."
"Mbak."
"Saya sadar saya pakai pekerjaan untuk mengisi yang seharusnya saya isi dengan koneksi manusia. Saya pikir saya bisa menjadi seseorang yang punya keluarga. Saya keluar dari pekerjaan dua tahun setelah Bram. Pindah ke Bali. Kerja di hotel kecil di Sanur. Sekarang punya pacar—pria Bali yang biasa, kerja di travel agency. Sederhana. Bahagia."
Lara tersenyum kecil.
"Mbak Karina. Saya... saya tidak tahu apa yang harus saya rasa."
"Mbak Lara. Anda tidak perlu rasa apa pun untuk saya. Cuma—saya bersyukur Anda dan Bram bisa bangun lagi. Saya dengar dari beberapa orang di kalangan kami yang masih ada. Mereka bilang Bram terlihat... berbeda sekarang. Lebih hidup."
"Mbak."
"Saya iri sebentar. Lalu saya bersyukur—karena kalau Bram bisa bangun lagi, mungkin saya juga."
Mereka tidak berpelukan. Tapi Lara menggandeng tangan Karina sebentar di akhir, saat mereka berdiri untuk pulang.
"Mbak Karina. Hidup baik."
"Mbak Lara. Anda juga."
Mereka berpisah.
Lara pulang ke Bintaro malam itu dengan rasa yang ringan. Closure—itu kata yang Indri pakai. Mungkin benar.
Bram menatap Lara saat dia masuk rumah. "Lara?"
"Mas. OK. Saya... saya OK."
Bram memeluk istrinya di pintu rumah.
Tujuh tahun setelah konfrontasi. Salah satu lapis terakhir akhirnya selesai.