Lima belas tahun setelah konfrontasi pertama, Lara dan Bram tetap di rumah Bintaro.
Rasya 22 tahun sekarang. Lulus dari ITB jurusan Teknik Industri. Kerja di startup tech di Jakarta. Tinggal di apartment kecil di Kebayoran Lama—dia bersikukuh mau hidup sendiri walaupun Lara dan Bram tawarkan tinggal di Bintaro untuk hemat. Pulang ke Bintaro setiap dua minggu untuk makan ayam goreng buatan Bram (yang sekarang udah jago masak ayam goreng setelah belajar 15 tahun).
Lara 49. Bram 52.
Mereka tidak punya anak kedua. Tidak menyesal. Rasya cukup.
Lara akhirnya menulis novel—bukan tentang Bram, atau, lebih tepat: bukan dengan Bram dikenali. Tentang seorang istri yang menemukan suaminya... bukan apa yang dia kira. Tapi disebut sebagai fiksi, dengan setting di luar negeri (London, bukan Jakarta). Bram membaca dan tertawa di beberapa adegan, menangis di beberapa adegan lainnya.
"Lara. Buku ini... terlalu real."
"Mas. Itulah maksud."
"Lara, saya pikir... saya pikir banyak orang yang akan baca buku ini akan bertanya apakah ini berdasarkan kisah nyata."
"Mas. Saya tidak akan jawab."
Buku itu dirilis tahun ke-15 setelah konfrontasi. Judul: "Tujuh Tahun yang Aku Tidak Kenal." Author: Lara P.—dengan inisial untuk privacy.
Cetakan pertama habis dalam dua minggu. Penerbit minta tour. Lara tidak mau—tidak ada event fisik, tidak ada wawancara TV, cuma email interview dan podcast yang Lara seleksi. Cuma kalau host-nya Lara percaya tidak akan tanya pertanyaan personal.
Buku itu jadi salah satu novel domestik paling dibaca di Indonesia tahun itu.
Lara dan Bram tidak banyak komentar tentang ketenaran. Tetap di rumah Bintaro. Tetap pergi weekend ke Sukabumi. Tetap memasak ayam goreng saat Rasya pulang.
***
Suatu sore di teras rumah Bintaro—teras yang sama yang lima belas tahun lalu jadi tempat Bram berdiri saat Lara pertama kali curiga, sekarang dengan dua kursi rotan baru yang mereka beli tahun lalu—Bram bertanya:
"Lara. Anda akan tulis sequel?"
"Saya tidak tahu, Mas. Pertanyaan yang sulit."
"Mas. Apa Anda mau saya tulis?"
"Lara. Saya pikir... saya pikir cerita kita masih hidup. Mungkin sequel akan berbeda—bukan tentang penemuan, tapi tentang apa yang terjadi setelah. Tentang membangun ulang. Tentang pilihan harian."
"Mas. Itu... itu bagus. Saya pikirkan."
Mereka diam di teras. Matahari turun di balik atap rumah tetangga. Aroma kembang melati yang Lara tanam sepuluh tahun lalu.
"Lara."
"Iya."
"Saya... saya pikir saya akan pensiun sebentar lagi."
"Mas. Anda 52. Itu masih awal."
"Lara. Saya pikir saya bisa pensiun di umur 55. Cukup tabungan—saya hitung kemarin. Anda juga tidak butuh saya kerja terus. Kita bisa hidup sederhana dari investasi dan rumah ini yang sudah lunas."
"Mas. Apa yang akan Anda lakukan setelah pensiun?"
"Lara. Saya... saya pikir saya mau menulis."
Lara menatap Bram. Pria yang lima belas tahun terakhir adalah hidup paling jujur dia pernah miliki, tapi yang kadang-kadang masih mengingatkan Lara akan dirinya yang dulu—mata yang terlalu tajam saat memandang grocery store sebagai kolam observasi, kebiasaan duduk dengan punggung ke dinding.
"Mas. Anda menulis?"
"Lara. Saya pernah... saya pernah menulis di pekerjaan dulu. Laporan, profil, analysis. Saya cukup bagus. Tapi tidak boleh kreatif. Sekarang saya pikir saya mau coba menulis non-fiksi. Tentang industri marketing. Tentang growth. Hal-hal yang saya tahu."
"Mas. Itu... itu bagus."
"Tapi tidak tentang pekerjaan dulu. Itu masih rahasia, sumpah saya kepada negara. Saya akan bawa ke kuburan."
"Mas. Saya tahu."
Bram tertawa kecil. Tertawa yang Lara hafalkan—bukan tawa tujuh tahun pertama yang dia kira tulus tapi setengah-akting, bukan tawa enam bulan-bulan sulit yang kadang patah, tapi tawa tujuh-belas-tahun-membangun-ulang yang sekarang lengkap.
"Lara. Anda tahu? Setelah kita bicara terapi tujuh tahun lalu, saya pikir kita... kita akan lebih bahagia lagi. Saya pikir saya akan dapat semuanya kembali. Tapi saya juga tahu—pernikahan kita yang dulu, yang sempurna selama tujuh tahun, itu palsu. Pernikahan kita yang sekarang—yang tidak sempurna, yang kadang sulit, yang punya bekas luka—adalah real."
"Mas. Iya."
"Lara. Saya bersyukur Anda menemukan saya."
"Mas. Bersyukur saya menemukan Anda?"
"Iya. Kalau Anda tidak menemukan, saya akan terus berbohong. Saya akan terus jadi orang yang setengah hadir. Dan kita akan hidup sempurna di luar tapi kosong di dalam—tujuh tahun, lalu sepuluh, lalu dua puluh. Mungkin sampai saya pensiun atau mati."
"Mas."
Lara memegang tangan Bram. Tangan yang sudah mulai keriput di buku-buku jari—pria 52 tahun yang masih jaga olahraga tapi tubuh tetap menua.
"Mas Bram."
"Iya."
"Saya... saya cinta Anda."
"Lara. Saya cinta Anda juga."
Mereka menatap pegunungan yang sangat jauh dari teras Bintaro—pegunungan yang sebenarnya tidak bisa dilihat dari Jakarta tengah, cuma siluet samar dari polusi. Atau matahari yang turun. Atau cuma satu sama lain.
Lima belas tahun setelah pernikahan rusak. Pernikahan yang lebih indah dari yang pertama.
Bukan karena lebih sempurna—tapi karena lebih dipilih.
***
Setahun kemudian, Lara mulai menulis sequel. Buku tentang membangun ulang.
Judulnya, dia putuskan setelah lama dipikirkan: "Cerita yang Tidak Ditulis."
Karena cerita yang sebenarnya—pernikahan yang dia dan Bram bangun ulang, tahun demi tahun—itu cerita yang tidak bisa benar-benar ditulis. Tidak dengan kata.
Cuma dengan hidup.