Hujan turun pelan saat mereka menurunkan Lara ke tanah, dan Rasya berpikir betapa ibunya akan membenci klise itu. Hujan di pemakaman. Lara selalu bilang air mata yang terlalu rapi membunuh sebuah cerita.
Rasya berdiri di antara ketiga anaknya. Ara memegang payung untuknya, terlalu tegak, seperti orang yang sudah memutuskan untuk tidak menangis. Dika menatap lubang dengan rahang terkatup. Naia, sembilan belas tahun, justru yang menangis—pelan, malu, seolah air matanya milik orang lain.
Sepuluh tahun lalu mereka menguburkan Bram di tanah yang sama, dua petak ke kiri. Tiga tahun lalu mereka membakar arsipnya. Hari ini mereka menutup buku yang terakhir. Rasya merasa seperti tokoh dalam novel ibunya sendiri—janda dari cerita keluarga, perempuan yang mewarisi seluruh kerangka dan harus tinggal di dalamnya.
"Bunda akan komentar soal hujannya," kata Ara pelan, tanpa menoleh.
"Aku tahu," kata Rasya. Mereka saling melempar senyum tipis yang sakit.
Setelah orang-orang pulang, rumah Bintaro terasa lebih besar dari seharusnya. Pelayat membawa rendang dan doa, lalu menguap satu per satu sampai yang tersisa hanya keluarga dan keheningan yang khas sebuah rumah yang baru kehilangan penghuninya. Lara meninggal di kamarnya sendiri, tidur, tanpa drama—cara yang sama sekali tidak sastrawi, dan mungkin justru karena itu menyakitkan.
Mereka mulai mengosongkan kamar malam itu. Bukan karena harus, tapi karena diam terasa lebih buruk. Lemari Lara penuh kebaya yang sudah bertahun tidak dipakai, dan tumpukan buku tulis bergaris yang ujungnya melengkung. Rasya menyentuh salah satunya dan tidak berani membukanya.
Lalu bel berbunyi.
Indri berdiri di teras, mantel hujan basah, rambut putihnya menempel di dahi. Enam puluh tiga tahun dan masih berdiri seperti orang yang menunggu jawaban. Detektif itu sudah pensiun lima tahun, tapi tubuhnya belum pensiun dari kebiasaannya: mengamati, menimbang, menyimpan.
"Aku terlambat untuk pemakaman," katanya. "Maaf. Penerbangan dari Solo."
"Masuk, Tante Indri." Rasya membuka pintu lebih lebar.
Indri masuk, melihat sekeliling rumah yang setengah dibongkar, tumpukan kardus, kebaya di sofa. Matanya berhenti pada satu titik—buku tulis di tangan Rasya—lalu kembali ke wajah perempuan itu.
"Lara titip sesuatu padaku," kata Indri. "Dulu. Sebelum sakit. Dia bilang kalau dia pergi duluan, aku boleh bertanya satu hal lagi padamu."
Rasya merasa lehernya dingin. "Pertanyaan apa?"
Indri tidak langsung menjawab. Ia melepas mantel, melipatnya dengan hati-hati di lengan, gestur seseorang yang terbiasa menunda hal penting sampai semua hal kecil beres.
"Pertanyaan yang sama yang kutanyakan dua puluh tahun lalu," katanya akhirnya. "Soal Bram. Soal apa yang dia kerjakan di tahun terakhirnya. Aku pikir aku sudah berhenti memikirkannya." Ia tersenyum, lelah. "Ternyata tidak."
Di belakang Rasya, Ara berdiri di ambang pintu, mendengar. Dan untuk pertama kalinya malam itu, mata putri sulungnya itu tidak lagi kosong, melainkan waspada.
(bersambung...)