Notaris itu bicara seperti orang yang sudah membaca terlalu banyak wasiat: datar, sopan, sedikit kebal terhadap duka orang lain. Ruangannya di Menteng, dingin oleh AC dan harum pewangi ruangan yang terlalu manis. Rasya duduk di antara Ara dan Eka, suaminya, yang memegang map dokumen seperti memegang pegangan kereta.
"Rumah di Bintaro," kata notaris, "beralih sepenuhnya kepada Nyonya Rasya. Tanpa syarat."
Dika, yang ikut lewat panggilan video dari kantornya, mengangguk di layar ponsel yang disandarkan ke gelas. Naia tidak datang; dia bilang dia tidak sanggup mendengar harga sebuah rumah yang penuh ingatan disebut dalam angka.
Tidak ada drama. Tidak ada saudara yang bertengkar, tidak ada wasiat rahasia yang membelokkan segalanya. Lara meninggalkan semuanya pada anak tunggalnya dengan logika seorang ibu: kau yang menulis, kau yang akan menjaga ceritanya.
Yang membuat Rasya tertegun bukan rumahnya. Tapi sebuah amplop cokelat yang diserahkan notaris di akhir, terpisah dari berkas resmi.
"Ini di luar wasiat," katanya. "Ibu Anda menitipkan ini bertahun lalu. Pesannya: diberikan setelah beliau wafat."
Di rumah, malam itu, Rasya membuka amplop di meja makan, di bawah lampu yang sama tempat ibunya dulu mengoreksi naskah. Di dalamnya: setumpuk kertas naskah. Tulisan tangan Lara, lalu ketikan, lalu tulisan tangan lagi—sebuah novel kedua yang tidak pernah ia tahu ada. Tidak selesai. Berhenti di tengah kalimat, di halaman empat puluh tujuh, seolah penulisnya hanya pergi sebentar ke dapur dan tidak pernah kembali.
Dan di balik tumpukan itu, sehelai kertas berbeda. Kertas Bram. Rasya mengenali tulisannya—tegas, miring, huruf yang ditekan terlalu kuat oleh tangan yang tidak terbiasa menulis hal lembut.
*Untuk Rasya. Jangan dibaca sekarang. Baca ketika kamu mengerti.*
Itu saja. Tidak ada tanggal. Tidak ada penjelasan. Surat ayahnya, disimpan ibunya, ditahan sampai keduanya tiada.
Ara membaca dari balik bahu ibunya. "Mengerti apa?"
"Aku tidak tahu," kata Rasya.
"Kapan kita tahu kalau kita sudah mengerti?"
Rasya menatap kalimat itu lama. Ada keangkuhan tertentu di dalamnya—Bram menulis seakan dia tahu putrinya akan sampai pada satu titik pemahaman tertentu, di waktu tertentu, dan dunia akan dengan sopan menunggu. Khas laki-laki yang seluruh hidupnya menyimpan rahasia: percaya bahwa keheningan adalah bentuk perlindungan.
"Mungkin," kata Rasya pelan, lebih kepada dirinya sendiri, "ini tipuan. Cara dia memaksaku terus berpikir tentang dia."
Tapi dia tidak membuangnya. Dia memasukkannya kembali ke amplop, dan amplop itu ke laci, dan laci itu ia tutup pelan—seperti orang menutup pintu kamar anak yang akhirnya tidur.
Naskah Lara ia simpan terpisah. Itu, setidaknya, bisa ia baca. Itu, setidaknya, ditulis untuk dibaca.
(bersambung...)