Rasya menunda masuk ke kamar orangtuanya selama sembilan hari setelah pemakaman. Sembilan hari ia lewati pintu itu, tangannya menempel di gagang, lalu pergi membuat teh yang tidak ia minum.
Itu kamar tempat Bram meninggal sepuluh tahun lalu. Kamar tempat Lara meninggal sebulan ini. Dua kematian dalam satu ranjang yang sama, dan di antaranya, Lara menolak pindah. "Aku tidur di sebelah bekas dia," katanya dulu, "supaya aku tidak lupa rasanya tidak sendiri."
Hari kesepuluh, Rasya masuk.
Bau ibunya masih ada—minyak kayu putih, bedak, sedikit melati dari sabun yang ia pakai sampai akhir. Rasya membuka jendela, lalu menyesal, karena angin menghapus bau itu seperti menghapus orang.
Lemari Bram di sisi kiri belum pernah dibuka sejak ia meninggal. Lara menyimpannya utuh, bukan karena tidak bisa melepas, tapi karena—Rasya baru paham sekarang—ada hal yang ibunya jaga di sana. Di rak atas, di balik tumpukan kemeja yang dilipat terlalu rapi untuk orang yang sudah mati, Rasya menemukan kotak kayu.
Di dalam kotak: amplop tersegel. Lebih tebal dari surat di laci. Dan di luarnya, tulisan tangan Bram lagi, tapi kali ini lengkap dengan instruksi.
*Jika kamu membaca ini, berarti aku dan ibumu sudah tiada, dan kamu sudah cukup dewasa untuk memilih. Di dalam amplop ini ada nama, tanggal, dan satu permintaan. Kamu boleh tidak membukanya. Membakarnya bukan dosa. Tapi kalau kamu buka, kamu tidak bisa pura-pura tidak tahu lagi.*
Rasya duduk di lantai kamar orangtuanya, amplop di pangkuan, dan tertawa kecil—tawa yang lebih dekat ke isak. Ayahnya, sampai mati, tetap seorang petugas intelijen. Bahkan warisannya disusun seperti operasi: berlapis, bersyarat, penuh pintu yang bisa ia tutup sendiri.
"Bapak," katanya pada ruang kosong, "kenapa tidak Bapak bilang saja waktu masih hidup."
Tapi ia tahu jawabannya. Karena ketika seseorang masih hidup, kebenaran bisa melukai mereka. Bram menunggu mati supaya tidak harus melihat wajah putrinya saat tahu.
Ia tidak membuka amplop itu hari itu. Ia meletakkannya kembali ke kotak, kotak ke rak, lalu duduk di tepi ranjang—di tempat ibunya tidur, di sebelah tempat ayahnya pernah ada. Untuk pertama kalinya ia merasakan kamar itu bukan sebagai makam, tapi sebagai ruang tunggu. Sesuatu di dalamnya masih menunggu diselesaikan.
Eka menemukannya di sana satu jam kemudian. Tidak bertanya apa-apa. Hanya duduk di sebelahnya, bahunya menyentuh bahunya, dua orang dewasa di kamar orang mati, tidak melakukan apa pun selain ada.
"Aku tidak mau ini jadi obsesi," kata Rasya akhirnya.
"Belum jadi," kata Eka. "Tapi aku mengenalmu."
(bersambung...)