Telepon dari Indri datang pukul setengah sebelas malam, jam yang dipakai orang-orang lanjut usia yang lupa bahwa orang lain tidur.
"Kamu sedang apa?" tanya Indri, tanpa salam, seperti biasa.
"Mengoreksi naskah orang lain. Pekerjaan." Rasya menyelipkan ponsel ke bahu, menumpuk kertas. "Tante kenapa belum tidur?"
"Aku dapat telepon hari ini." Suara Indri punya nada yang Rasya kenal dari masa kecil—nada ketika perempuan ini menemukan benang dan tidak akan melepasnya. "Dari seseorang yang bekerja di arsip BIN. Pensiunan, sebagian. Sebagian masih jadi konsultan. Dia tidak menyebut nama, tapi dia tahu siapa aku, dan dia tahu siapa ayahmu."
Rasya berhenti menumpuk kertas. "Kenapa dia menghubungi Tante?"
"Itu yang aneh." Indri terdiam, dan Rasya bisa membayangkannya di apartemen kecilnya di Solo, lampu satu menyala, peta-peta lama dan map-map kasus yang seharusnya sudah ia bakar saat pensiun. "Biasanya orang seperti dia tidak menghubungi orang seperti aku. Mereka menunggu kita berhenti bertanya. Tapi dia bilang ada sesuatu di berkas Bram yang baru diklasifikasi ulang. Lima tahun terakhir. Disegel lagi, padahal sudah lama dianggap mati."
"Disegel ulang." Rasya mengulang kata itu, mencoba merasakannya. "Maksud Tante, sesuatu yang dulu boleh dibaca, sekarang tidak?"
"Persis. Dan kamu tidak menyegel ulang sesuatu yang tidak penting. Kamu menyegel ulang sesuatu yang tiba-tiba jadi penting lagi. Atau sesuatu yang baru kamu sadari belum selesai." Indri menarik napas. "Rasya, ayahmu mati sepuluh tahun lalu. Kalau berkasnya disegel ulang lima tahun lalu, berarti ada orang—masih hidup—yang peduli isi berkas itu sampai sekarang."
Di luar jendela, Bintaro sunyi. Anjing tetangga menggonggong sekali, lalu menyerah.
"Kenapa Tante cerita ini ke aku?" tanya Rasya. "Tante bisa simpan sendiri. Tante sudah pensiun."
"Karena Lara baru saja mati," kata Indri pelan, "dan dia adalah alasan terakhirku untuk tidak membukanya. Selama dia hidup, aku takut menemukan sesuatu yang menyakitinya. Sekarang dia tidak bisa terluka lagi." Jeda. "Tapi kamu bisa. Jadi aku tidak akan melakukan apa pun tanpa izinmu."
Rasya menatap laci tempat amplop ayahnya tersimpan. Ia belum cerita pada Indri soal surat itu. Soal *baca ketika kamu mengerti*. Soal kotak kayu di kamar.
"Aku perlu waktu," katanya.
"Aku punya banyak waktu," kata Indri. "Itu satu-satunya yang dipunya orang pensiun. Tapi, Rasya—" suaranya berubah, lebih lembut, lebih tua. "Aku enam puluh tiga. Aku tidak punya sepuluh tahun lagi untuk menunggu kamu siap."
Telepon ditutup. Rasya berdiri lama di dapur, dikelilingi naskah orang lain, dan untuk pertama kali memikirkan bahwa rasa ingin tahu, ternyata, juga bisa diwariskan—seperti rumah, seperti trauma, seperti hidung Bram yang menurun ke wajah Dika.
(bersambung...)