Karina memiliki hotel kecil di tebing Uluwatu, lima belas kamar, kolam yang menghadap laut yang terlalu indah untuk percakapan yang akan mereka lakukan. Enam puluh tujuh tahun, kulit cokelat oleh matahari Bali, rambut dibiarkan memutih dengan elegan—seseorang yang telah mengubah masa lalu yang berbahaya menjadi pensiun yang tenang, dan tidak suka diingatkan akan masa lalu itu.
Indri datang sendiri. Rasya ingin ikut, tapi Indri menolak. "Karina akan bicara pada satu orang. Dua orang itu interogasi. Aku detektif, bukan kamu. Biar aku dulu."
Mereka duduk di teras Karina, jauh dari kamar tamu. Karina menuang teh, tangannya stabil, tapi Indri—yang telah membaca tangan orang seumur hidupnya—melihat ketegangan di buku-buku jarinya.
"Bram sudah mati sepuluh tahun," kata Karina. "Lara baru saja. Kenapa sekarang?"
"Karena berkasnya disegel ulang lima tahun lalu," kata Indri. "Dan karena seseorang siap bicara, dan aku ingin tahu siapa, dan tentang apa."
Karina memandang laut. Ombak memecah di bawah tebing, berulang, tidak peduli pada percakapan manusia. "Aku selalu tahu kamu akan datang," katanya akhirnya. "Lara cerita tentangmu. Detektif yang tidak pernah bisa berhenti. Dia sayang padamu, tapi dia juga takut padamu. Karena dia tahu kamu akan terus menggali sampai kamu menemukan hal yang dia habiskan seluruh hidupnya untuk tidak mengetahui."
"Lara tidak tahu soal operasi terakhir Bram."
"Tidak." Karina menatapnya tajam. "Dan itu pemberian terbesar yang pernah Bram beri padanya. Membiarkan dia tidak tahu."
Indri mencondong. "Jadi ada operasi terakhir."
Karina diam lama. Cukup lama untuk membuat Indri tahu jawabannya sebelum perempuan itu mengucapkannya.
"Ada," kata Karina akhirnya. "Di tahun terakhir Bram. Satu operasi yang tidak pernah ia laporkan. Tanpa persetujuan. Tanpa nomor. Aku tahu karena aku yang membantunya—bukan atas perintah, tapi karena dia memintaku sebagai teman, dan karena aku berutang padanya dari sesuatu yang terjadi bertahun sebelumnya." Ia memutar cangkirnya. "Aku tidak akan ceritakan semuanya hari ini. Mungkin tidak akan pernah. Tapi aku akan beri tahu satu hal supaya kamu paham bahayanya, dan kemudian kamu yang putuskan apakah mau terus."
"Aku dengar."
Karina meletakkan cangkir. "Orang yang Bram lindungi di operasi itu—dia bukan musuh negara. Dia seorang saksi. Dan orang-orang yang ingin dia bungkam masih hidup. Masih berkuasa. Mereka itulah alasan kenapa berkas itu disegel ulang." Ia menatap Indri lurus. "Bram membawa rahasia ini ke kubur untuk melindungi dua hal sekaligus: saksi itu, dan keluarganya. Bukan untuk melindungi negara. Untuk melindungi Lara, dan Rasya, dan cucu-cucu yang belum ia kenal. Kalau kamu buka ini, kamu membatalkan perlindungan itu."
Indri merasakan beratnya. Bukan ketakutan—ia terlalu tua untuk takut—tapi sesuatu yang lebih buruk: tanggung jawab.
"Lalu kenapa kamu mau bicara sama sekali?" tanyanya.
Karina tersenyum, dan ada kelelahan setua laut di senyum itu. "Karena aku juga sudah tua, Indri. Dan aku tidak mau jadi orang terakhir yang tahu. Karena rahasia yang hanya dipegang satu orang akan mati salah—dibengkokkan, dilebih-lebihkan, atau hilang sama sekali. Aku cuma minta satu hal." Ia menatap ke arah utara, ke arah Jakarta yang jauh. "Jangan beri ini ke negara. Beri ini ke anaknya. Kalau memang harus ada yang tahu, biar darahnya sendiri yang menanggung."
(bersambung...)