Tiga bulan setelah kematian Lara, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ketiga anak Rasya berada di rumah Bintaro pada akhir pekan yang sama. Bukan karena diatur. Hanya kebetulan jadwal, atau mungkin tarikan rumah yang baru kehilangan dua penghuninya dan butuh diisi suara.
Ara dua puluh enam, masih di Indonesia sejak pemakaman, masih belum membeli tiket pulang ke Melbourne, sebuah keterlambatan yang tidak ada yang berani sebut. Dika dua puluh empat, pulang dari kantornya di Surabaya, lebih kurus, lebih sinis, dengan kebiasaan baru memeriksa ponsel saat orang bicara. Naia sembilan belas, mahasiswa sastra, membawa buku catatan ke mana-mana seperti neneknya dulu, dan menatap rumah ini dengan mata yang Rasya khawatirkan—mata yang melihat cerita di mana-mana.
Mereka memasak bersama malam itu. Berantakan, terlalu banyak juru masak, Dika membakar bawang, Ara mengomel, Naia merekam semuanya "untuk dokumentasi". Untuk satu jam, rumah itu terasa seperti rumah dan bukan museum.
Lalu, di meja makan, di antara piring kotor, Naia bertanya.
"Aku baca naskah Nenek yang belum selesai." Ia mengatakannya pelan, tapi semua berhenti. "Maaf, Bunda. Aku tahu seharusnya minta izin. Tapi pintunya tidak dikunci, dan aku—" ia menelan. "Aku selesai bacanya. Sampai halaman empat puluh tujuh. Sampai habis. Sampai berhenti."
Rasya tidak marah. Ia tahu ini akan terjadi. Anak penulis tidak bisa tidak membaca naskah yang tergeletak.
"Dan?" tanya Rasya.
Naia menatap saudara-saudaranya, lalu ibunya. "Apakah kita berkewajiban menyelesaikan cerita mereka?"
Pertanyaan itu menggantung di udara seperti asap bawang Dika.
"Tidak," kata Dika langsung, hampir refleks. "Itu cerita mereka. Mereka mati. Cerita mereka mati sama mereka. Kita punya cerita sendiri." Ia menatap Naia, lebih lembut dari biasanya. "Nai, kamu paling rentan kena ini. Kamu lihat Nenek nulis, kamu pikir nulis itu cara hidup. Tapi lihat akibatnya. Nenek nulis Kakek sampai pernikahan mereka jadi panggung. Bunda nulis Nenek. Kalau kamu nulis kita, ini tidak akan pernah berhenti."
"Atau," kata Naia, "kalau tidak ada yang menulis, semua ini hilang. Nenek hilang. Kakek hilang. Kita cuma jadi orang yang lupa."
"Lupa tidak selalu buruk," kata Dika.
"Mudah buatmu bilang begitu," sahut Naia, suaranya naik. "Kamu mirip Kakek. Diam, lupa, kubur. Aku mirip Nenek. Aku tidak bisa."
Ara, yang dari tadi diam, akhirnya bicara. "Kalian berdua benar. Itu masalahnya." Ia mengumpulkan piring, gestur kakak tertua yang membersihkan kekacauan emosional dengan kekacauan fisik. "Kakek meninggalkan rahasia supaya bisa dilupakan. Nenek meninggalkan cerita supaya diingat. Mereka tidak setuju bahkan setelah mati. Dan kita—" ia menatap mereka satu-satu, "—kita yang harus hidup di antaranya."
Rasya mendengarkan ketiga anaknya dan melihat seluruh keluarganya dalam satu meja: kemarahan Lara, keheningan Bram, dan dirinya sendiri di tengah, mencoba menengahi orang-orang mati lewat anak-anak yang hidup.
"Kita tidak wajib menyelesaikan apa pun," kata Rasya akhirnya. "Tapi kita wajib memutuskan. Dan memutuskan untuk membiarkan, itu juga sebuah cerita."
Naia mencatat kalimat itu. Tentu saja ia mencatatnya. Rasya melihatnya, dan tidak menghentikannya, dan tidak tahu apakah itu cinta atau kelalaian.
(bersambung...)