Badu masih terlalu muda untuk paham apa yang ia minta. Itu pikiran pertama Rasya saat editor itu duduk di seberangnya di kafe Kemang, tiga puluh dua tahun, kacamata mahal, semangat yang belum tergores oleh cukup banyak penolakan.
"Jadi begini," kata Badu, membuka tablet dengan gestur orang yang sudah melatih pitching ini di kamar mandi. "Novel ibu Anda klasik. Sekuelnya, yang belum selesai—kami bisa terbitkan apa adanya, dengan catatan editorial, dan itu akan laku. Tapi saya punya ide yang lebih besar."
"Aku takut kamu bilang begitu."
"Biografi." Ia mengucapkannya seperti menyebut harta karun. "Lengkap. Lara dan Bram. Bukan fiksi, bukan 'berdasarkan'. Yang sebenarnya. Penulis intelijen yang menikahi—atau dinikahi oleh—seorang petugas yang menyimpan rahasia negara. Anda anak mereka, Anda penulis terkenal, Anda punya akses. Ini cerita lengkap yang tidak pernah ada yang bisa tulis. Pasar haus cerita keluarga begini. Apalagi sekarang, dengan—" ia menahan diri, sopan, "—dengan ibu Anda baru wafat. Momentumnya tepat."
Di situ Rasya berhenti mendengar dan mulai mengamati. Lelaki ini baik. Tidak jahat. Hanya muda, dan industri ini melatih orang muda untuk melihat duka sebagai momentum.
"Cerita lengkap," ulang Rasya. "Kamu tahu kenapa ibuku menulis fiksi dan bukan biografi?"
Badu menggeleng, masih tersenyum.
"Karena ada hal yang hanya bisa dikatakan kalau kamu boleh berbohong sedikit. Fiksi memberi orang jarak. Kamu bisa menulis 'tokoh ini' alih-alih 'ayahku'. Kamu bisa bilang kebenaran yang terlalu tajam untuk dikatakan langsung." Rasya memutar gelasnya. "Begitu kamu sebut nama asli, kamu mengubah pengakuan jadi tuduhan. Kamu mengubah keluarga jadi bukti."
"Tapi kebenaran—"
"Kebenaran siapa, Badu?" Suaranya tidak keras, tapi Badu berhenti. "Aku punya tiga versi ayahku di rumah sekarang. Versi novel pertama ibuku—marah. Versi novel kedua—pemaaf. Versi suratnya sendiri—penuh penyesalan dan rahasia. Mana yang 'lengkap'? Kalau aku tulis biografi, aku harus memilih, dan pilihanku akan jadi versi resmi selamanya. Anak-anakku akan mewarisi versi yang aku pilih, bukan versi yang sebenarnya, karena tidak ada versi yang sebenarnya. Hanya ada versi yang dipilih."
Badu meletakkan tabletnya. Untuk pertama kali ia tampak seperti orang, bukan editor. "Saya tidak memikirkan itu."
"Aku tahu. Kamu masih terlalu muda untuk tahu betapa berbahayanya menyelesaikan cerita orang lain." Ia tersenyum supaya kalimat itu tidak terlalu kejam. "Aku akan pikirkan sekuelnya. Yang belum selesai. Mungkin aku selesaikan, mungkin aku terbitkan apa adanya. Tapi biografi—" ia menggeleng. "Itu bukan menerbitkan cerita. Itu mengeksekusinya. Mengunci satu versi dan membunuh yang lain."
Saat pulang, di tol dalam kota yang macet seperti biasa, Rasya menyadari ironi yang akan membuat ibunya tertawa: ia menolak menulis kebenaran lengkap tentang ayahnya kepada penerbit, sementara di saat bersamaan ia diam-diam berniat mengejar kebenaran lengkap itu untuk dirinya sendiri. Satu untuk dunia, satu untuk dia. Persis seperti yang dilakukan ayahnya seumur hidup.
Mungkin warisan paling jujur bukanlah cerita. Tapi cara menyimpannya.
(bersambung...)