Indri tidak menunggu izin penuh. Ia tidak pernah benar-benar bisa. Yang ia lakukan adalah memberi Rasya kabar setelah faktanya—kebiasaan lama detektif yang tahu bahwa meminta izin terlalu sering berarti tidak akan pernah bergerak.
Ia menemui arsiparis BIN itu di sebuah warung kopi di Bekasi, tempat yang dipilih lelaki itu, bukan dia—pertanda pertama bahwa lelaki itu yang memegang kendali. Lelaki enam puluhan, kemeja batik rapi, jenis orang yang seluruh hidupnya menjaga rahasia orang lain sampai rahasia itu jadi berat di tubuhnya sendiri.
"Saya tidak akan menyebut nama," kata lelaki itu, mengaduk kopinya yang tidak ia minum. "Tidak nama saya, tidak nama orang lain. Anggap saja saya seseorang yang pernah memegang map yang tidak seharusnya saya baca."
"Saya pensiunan juga," kata Indri. "Saya kenal aturan diam."
Lelaki itu tersenyum tipis, seperti orang yang tahu bahwa pensiun bukan jaminan apa pun. "Berkas Bram," katanya, "sebagian besar dibuka untuk publik bertahun lalu. Tipikal. Setelah subjek mati, setelah tidak ada yang dirugikan, mereka buka. Tapi ada satu bagian—tipis, mungkin dua belas halaman—yang ditarik kembali lima tahun lalu. Disegel ulang. Dengan dasar keamanan nasional. Tidak akan dibuka sepuluh tahun lagi. Minimal."
"Apa isinya?"
"Saya tidak baca. Sumpah saya tidak baca isinya, karena saat saya pegang map itu, bagian itu sudah dijahit—dijahit, harfiah, dengan benang segel. Tapi saya baca sampulnya. Dan sampul bilang satu hal yang aneh." Ia menatap Indri. "Operasi itu tidak punya nomor registrasi resmi. Padahal semua operasi punya. Yang ini tidak. Artinya, secara administratif, operasi itu tidak pernah terjadi."
Indri merasa dingin yang familier—dingin saat sebuah benang menarik benang lain. "Operasi tanpa nomor berarti tidak disetujui lewat jalur resmi."
"Atau diperintahkan oleh seseorang yang punya kuasa untuk melewati jalur resmi. Dua-duanya berbahaya. Dua-duanya alasan untuk menyegel ulang setelah subjek mati."
Mereka diam. Penjual kopi menggoreng pisang di belakang, asapnya naik ke langit-langit seng.
"Kenapa Anda cerita ini ke saya?" tanya Indri akhirnya, pertanyaan yang sama yang ditanyakan Rasya padanya.
Lelaki itu menatap kopinya lama. "Karena ada orang lain yang juga bertanya tentang berkas itu, dua tahun lalu. Orang yang bukan keluarga, bukan peneliti. Orang yang punya akses yang seharusnya tidak ia punya. Saya melaporkannya—itu tugas saya. Tapi saya tidak pernah tahu kenapa dia bertanya, dan itu mengganggu saya sampai sekarang." Ia mengangkat wajah. "Saya sudah tua, Bu. Saya tidak mau mati dengan map yang tidak saya pahami di kepala saya. Anda dulu detektif. Mungkin Anda bisa pahami apa yang saya tidak bisa."
Lalu ia menambahkan, lebih pelan, kalimat yang membuat Indri menelepon Rasya malam itu juga:
"Dan ada satu orang yang, saya dengar, siap bicara. Bukan saya. Seseorang yang dekat dengan operasi itu. Tapi dia hanya akan bicara pada orang yang tepat. Bukan pada negara. Pada keluarga."
(bersambung...)