Ara pulang dari Melbourne dua minggu setelah pemakaman, terlambat untuk kematian neneknya, tepat waktu untuk hal lain yang belum punya nama.
Dua puluh enam tahun, dan ia telah menghabiskan empat tahun terakhir di benua lain, melakukan sesuatu dengan desain dan arsip digital yang Rasya tidak sepenuhnya pahami, tapi yang ia tahu intinya: Ara pergi untuk kabur. Bukan dari ibunya. Dari rumah. Dari cerita. Dari beban menjadi cucu perempuan dari perempuan yang mengubah keluarganya jadi sastra.
"Aku tidak mau jadi tokoh di buku siapa pun," katanya dulu, delapan belas tahun, marah, menjelang keberangkatannya. "Bunda menulis Nenek. Nenek menulis Kakek. Aku tidak mau ada yang menulis aku."
Sekarang ia berdiri di kamarnya yang lama di Bintaro, dan kamar itu sudah jadi gudang setengah hati—kardus naskah, kebaya Lara, perabot yang tidak tahu mau diapakan.
"Rumah ini terasa lebih kecil," kata Ara.
"Atau kamu yang lebih besar," kata Rasya.
Mereka tidak berpelukan dengan canggung di bandara. Mereka tidak punya jenis hubungan itu. Tapi malam itu, di dapur, Rasya menceritakan semuanya. Naskah kedua Lara. Amplop di laci. Kotak kayu di kamar. Surat Bram. Karina. Indri dan telepon dari arsip BIN.
Ara mendengarkan dengan keheningan yang ia warisi dari kakeknya—keheningan yang menimbang.
"Jadi Kakek meninggalkan misteri," kata Ara akhirnya. "Dan Nenek meninggalkan pengampunan. Dan Bunda harus memilih mana yang diteruskan."
"Kira-kira begitu."
Ara menyentuh tumpukan kardus naskah. Ada yang berubah di wajahnya—Rasya melihatnya, dan mengenalinya, karena itu wajahnya sendiri dua puluh tahun lalu. Bukan ketakutan. Ketertarikan. Bahaya yang dimulai dengan rasa ingin tahu.
"Aku selalu pikir aku kabur dari ini," kata Ara pelan. "Tapi mungkin aku cuma kabur sampai aku cukup tua untuk mau kembali." Ia menatap ibunya. "Kamu akan mengejar surat Kakek, kan."
Bukan pertanyaan.
"Aku belum memutuskan," kata Rasya, yang tahu itu setengah bohong.
"Bunda," kata Ara, dan untuk pertama kali nadanya bukan nada anak ke ibu, tapi nada satu dewasa ke dewasa lain, "kalau Bunda buka pintu itu, aku mau ikut. Bukan untuk menghentikan Bunda. Untuk ada di sana waktu Bunda menemukan apa pun yang ada di baliknya."
Rasya menatap putrinya—putri yang lari ke benua lain untuk tidak jadi tokoh cerita, sekarang menawarkan diri masuk ke dalam yang paling gelap.
"Kakekmu menulis supaya aku boleh tidak melakukan ini," kata Rasya.
"Aku tahu," kata Ara. "Tapi Bunda penulis. Bunda tidak pernah bisa membiarkan kalimat berhenti di tengah."
Dan untuk itu Rasya tidak punya bantahan, karena di laci atas, naskah Lara masih berhenti di halaman empat puluh tujuh, di tengah kalimat, menunggu seseorang yang cukup berani—atau cukup bodoh—untuk menyelesaikannya.
(bersambung...)