Indri menelepon pukul sebelas malam, dan dari nada suaranya Rasya tahu sebelum ia bicara bahwa sesuatu telah bergeser.
"Aku tahu siapa yang meminta Bram," kata Indri tanpa basa-basi. "Belum semua. Tapi aku tahu jenis orangnya. Aku tahu kenapa berkas itu disegel ulang. Rasya, ini lebih besar dari yang aku kira. Ini bukan cuma operasi liar pensiunan. Ini—"
"Berhenti," kata Rasya.
Indri berhenti, terkejut.
"Karina sudah cerita padaku. Versinya. Dan dia bilang satu hal yang kamu lewatkan, Tante." Suara Rasya gemetar, tapi ia menahannya. "Dia bilang pertanyaannya bukan 'siapa yang Bapak sembunyikan'. Tapi 'apakah aku setuju dia memilih diam'. Dan kamu—kamu mengubahnya jadi kasus lagi. Jadi benang. Jadi sesuatu yang harus kamu pecahkan supaya kamu merasa berguna."
"Aku melakukan ini untukmu—"
"Tidak." Kata itu keluar lebih tajam dari yang Rasya niatkan. "Kamu melakukan ini untuk dirimu sendiri, Tante. Kamu sudah pensiun lima tahun dan kamu tidak tahu siapa dirimu tanpa kasus. Lara mati, dan satu-satunya cara kamu berduka adalah dengan menjadikan kematiannya pintu untuk membuka luka lama. Aku mengerti. Aku penulis, aku juga mengubah duka jadi proyek. Tapi ini bukan proyekmu. Ini ayahku. Ini keluargaku."
Hening di ujung sana, hening yang lebih menyakitkan dari kata apa pun.
"Aku mengenal ibumu," kata Indri akhirnya, suaranya pecah di tepi. "Sebelum kamu lahir. Sebelum Bram. Aku memegang tangannya di ruang persalinan tempat kamu lahir karena Bram sedang 'ke luar kota'. Jangan bilang ini bukan keluargaku."
Dan itu—itu yang membuat Rasya diam, karena itu benar. Indri adalah keluarga. Keluarga yang dipilih, keluarga yang lebih hadir dari ayah kandungnya di banyak momen. Tapi kebenaran itu justru membuat segalanya lebih sulit, bukan lebih mudah.
"Tante," kata Rasya pelan, kemarahannya surut jadi kelelahan, "Bapak menulis padaku supaya aku boleh tidak melakukan ini. Dia memberiku pilihan. Tapi kamu—kamu tidak memberiku pilihan. Kamu sudah bergerak. Kamu menemui arsiparis tanpa izinku. Kamu ke Bali. Kamu memutuskan untukku, persis seperti yang Bapak lakukan seumur hidup pada Bunda. Kamu pikir kamu menolongku, tapi kamu cuma melakukan yang sama: mengambil keputusan untuk perempuan, lalu menyebutnya perlindungan."
Ia mendengar Indri menarik napas, lalu menahannya.
"Aku perlu berhenti sebentar," kata Rasya. "Dari ini. Dari kamu. Aku perlu memutuskan ini sendiri, tanpa kamu menarik benangnya lebih jauh setiap kali aku ragu. Tolong. Berhenti dulu."
"Rasya—"
"Tolong, Tante Indri."
Telepon ditutup—oleh Rasya, untuk pertama kali dalam hidupnya, menutup telepon pada perempuan yang memegang tangan ibunya saat ia lahir.
Ia duduk di kegelapan dapur Bintaro. Di lantai atas, Ara tidur, atau pura-pura tidur. Di laci, surat ayahnya. Di rak, naskah ibunya yang berhenti di tengah kalimat. Dan kini, retak di antara dirinya dan satu-satunya orang yang masih hidup yang mencintai ibunya sebelum dirinya ada.
Ini, pikir Rasya, juga warisan. Bukan rumah. Bukan rahasia. Tapi cara setiap generasi melukai orang yang dicintainya sambil mencoba melindungi mereka.
Di luar, Bintaro diam. Rumah itu, seperti biasa, menyimpan semuanya, dan tidak mengatakan apa-apa.
(bersambung...)