Rasya membuka laptop pukul setengah lima pagi, jam yang dulu ditakutinya, sekarang menjadi miliknya.
Penerbitnya, lewat Badu, sudah mendesak selama berbulan-bulan. "Biografi orangtua Anda," katanya di telepon, dengan nada orang yang sudah menghitung royalti. "Sekuel novel ibu Anda terjual. Pembaca ingin yang nyata. Mereka ingin tahu siapa Bram sebenarnya."
Yang nyata. Rasya hampir tertawa.
Tapi yang mendorongnya bukan Badu. Yang mendorongnya adalah Indri. Tiga hari lalu, di teras Bintaro, Indri menaruh map cokelat di atas meja seolah menaruh granat. "Ada yang diredaksi dari berkas ayahmu," katanya. "Aku belum tahu apa. Tapi aku akan tahu."
Rasya menyuruhnya berhenti. Indri tidak berhenti. Indri tidak pernah berhenti—itu yang membuatnya detektif yang baik dan teman yang melelahkan.
Jadi Rasya menulis. Karena jika Indri akan menggali kebenaran dengan paksa, setidaknya Rasya bisa menulis versi yang mereka kenal. Versi yang aman. Versi yang sudah dijinakkan menjadi kalimat.
Dia mulai dari yang dia tahu: Lara muda di Yogyakarta, hujan, surat-surat yang tidak pernah dikirim. Bram yang datang dengan senyum yang menyembunyikan tujuh pekerjaan. Pernikahan yang dibangun di atas kepercayaan dan kerahasiaan dalam takaran yang tidak pernah seimbang.
Kalimat-kalimat datang seperti banjir yang sudah menunggu bendungan jebol. Dia menulis empat ribu kata sebelum matahari naik. Ketika Eka turun mencari kopi, dia menemukan istrinya menatap layar dengan mata merah, jari masih bergerak.
"Kamu tidur?" tanya Eka.
"Sebentar lagi."
Itu jawaban yang sama yang diberikan Lara dulu, Rasya menyadari, kepada ayahnya yang menunggu. Menulis selalu menjadi alasan di rumah ini. Menulis selalu menjadi tempat sembunyi yang terlihat seperti kerja keras.
Katartik, ya. Setiap paragraf melepaskan sesuatu di dadanya. Tapi ada yang lain juga—lapar yang tidak kenyang. Semakin dia menulis, semakin dia ingin tahu apa yang belum bisa ditulisnya. Bagian-bagian kosong. Tahun terakhir Bram, ketidakhadiran yang tak terjelaskan, perjalanan yang tidak ada di kalender.
Dia mengetik adegan Bram di ranjang rumah sakit, tangan kanannya yang sudah mati rasa setelah stroke, mata yang masih waspada. Dia menulis bahwa ayahnya damai.
Lalu dia menghapusnya. Karena dia tidak tahu apakah itu benar.
Itulah masalahnya dengan menulis kehidupan orang: kau harus memilih antara yang indah dan yang jujur, dan kadang kau tidak tahu mana yang mana.
Di pojok layar, sebuah pesan dari Indri masuk: "Aku temukan satu nama. Belum siap cerita. Tapi simpan teh, aku datang Sabtu."
Rasya menatap pesan itu lama. Lalu dia kembali menulis, lebih cepat, seolah berlomba dengan sesuatu yang sudah mulai mengejar.
(bersambung...)