Dika datang Minggu sore tanpa diundang, yang berarti dia datang untuk berkelahi.
Rasya kenal anak tengahnya. Ara akan mengirim pesan dulu. Naia akan muncul dengan kue dan basa-basi sebelum menusuk. Dika langsung ke ruang kerja, melihat tumpukan kertas dan papan tulis penuh garis waktu, dan berkata, "Jadi ini benar."
"Apa yang benar?"
"Kamu menulis tentang Kakek. Tentang kita."
Rasya meletakkan pulpennya. "Aku menulis biografi orangtuaku. Itu sejarah, Dik."
"Itu kita." Dika berdiri di ambang pintu, tidak mau masuk, seolah ruangan itu terkontaminasi. "Kamu tahu apa yang terjadi waktu novel Nenek terbit ulang? Teman-temanku mengirim tautan. 'Eh, ini keluargamu, kan?' Aku jadi tokoh dalam buku yang tidak kutulis. Sekarang kamu mau menulis yang asli? Mengubah keluarga kita jadi konten?"
Kata itu—konten—mengenai Rasya seperti tamparan. Karena ada benarnya.
"Ini bukan konten," katanya, tapi suaranya kurang yakin dari yang dia mau.
"Lalu apa? Badu sudah pasang pre-order belum?" Dika tersenyum tanpa humor. "Aku tahu sudah. Ada uangnya. Selalu ada uangnya."
"Uang bukan alasannya."
"Lalu kenapa?" Dika akhirnya masuk, duduk di kursi seberang, dan untuk sesaat dia bukan lagi pemberontak melainkan anak yang bingung. "Kenapa kamu tidak bisa biarkan saja? Kakek sudah meninggal. Nenek sudah meninggal. Mereka punya rahasia, baiklah, semua orang punya rahasia. Kenapa kita harus membongkar kuburan?"
Rasya memikirkan jawaban yang jujur. Bahwa dia takut. Bahwa selama bertahun-tahun dia hidup dengan versi yang sudah dipoles, dan sekarang Indri mengguncang fondasinya, dan menulis adalah satu-satunya cara dia tahu untuk berdiri tegak.
Yang keluar malah: "Karena kalau aku tidak menulisnya, orang lain yang akan."
"Tidak ada yang minta cerita ini selain penerbitmu dan Tante Indri yang sudah obsesif."
"Tante Indri sahabat Nenekmu—"
"Tante Indri detektif yang tidak bisa berhenti jadi detektif." Dika berdiri lagi. "Dan sekarang dia menyeretmu. Dan kamu menyeret kami. Tahu apa yang kupikir, Bu? Kupikir Nenek menulis novel itu supaya tidak ada yang perlu tahu yang sebenarnya. Itu penjagaannya. Dan kamu sedang merobohkannya."
Ruangan hening. Di luar, hujan mulai turun, suara yang sama yang mengisi rumah ini sejak Rasya kecil.
"Mungkin kamu benar," kata Rasya pelan.
Dika tampak terkejut. Dia siap bertengkar, bukan untuk disetujui.
"Tapi aku tetap akan menulisnya," lanjut Rasya. "Karena aku tidak tahu cara hidup dengan tidak tahu."
Dika menatapnya lama. Lalu dia mengangguk satu kali—bukan setuju, hanya menerima—dan pergi tanpa pamit, meninggalkan pintu terbuka dan hujan masuk lewat jendela yang lupa ditutup.
(bersambung...)