Rasya menemukannya tidak sengaja.
Naia menitipkan laptopnya saat menginap, baterai habis, dan minta Rasya mengirim file tugas kuliah ke emailnya. Folder dokumen terbuka. Di antara catatan kuliah dan draf skripsi, ada satu file: "Lelaki yang Bukan Siapa-siapa.docx."
Rasya tidak bermaksud membacanya. Lalu dia membaca baris pertama.
"Wita jatuh cinta pada seorang lelaki yang setiap kali ditanya pekerjaannya, menjawab dengan kata yang berbeda."
Tangan Rasya dingin. Dia tahu dia harus menutupnya. Dia tidak menutupnya.
Cerpen itu tentang Wita, mahasiswi, yang jatuh cinta pada Bayu—pegawai negeri, katanya, atau konsultan, atau sekali waktu hanya "orang yang mengurus hal-hal." Wita tidak peduli. Wita suka caranya menyimpan diam seperti orang menyimpan hadiah. Tapi makin lama, diam itu mulai terasa seperti tembok. Dan ketika Wita hamil, Bayu menghilang selama tiga minggu tanpa penjelasan, dan kembali dengan luka di pelipis yang dia bilang karena terpeleset.
Itu fiksi. Nama-namanya baru. Latarnya kampus, bukan Yogyakarta. Tapi setiap orang dalam keluarga ini akan mengenali tulangnya: Bram dan Lara, pekerjaan yang tak pernah punya nama, perempuan yang mencintai keheningan sampai keheningan itu mencintainya balik dengan cara yang menyakitkan.
Naia tiga belas tahun ketika neneknya sebenarnya cuma cerita. Sekarang dua puluh, dia mengubah cerita itu menjadi miliknya.
Rasya duduk lama di tepi kasur. Dia tidak tahu harus bangga atau ngeri. Mungkin keduanya—itu paragraf yang sama, seperti biasa di keluarga ini.
Karena di sinilah polanya: Lara menulis untuk bertahan. Rasya menulis untuk memproses. Dan sekarang Naia, generasi ketiga, mengambil pena yang sama, dan Rasya tahu persis ke mana jalan itu menuju. Menulis menyelamatkan perempuan-perempuan keluarga ini, dan menulis melukai mereka, dan tidak ada yang bisa membedakan mana yang lebih dulu.
Malam itu, saat Naia mengambil laptopnya, Rasya tidak bisa menahan diri.
"Aku tidak sengaja lihat satu fail," katanya. "Cerpenmu."
Naia membeku. Wajahnya, sangat mirip Lara di foto-foto lama, memerah. "Itu cuma latihan."
"Itu bagus."
"Itu bukan tentang kita."
"Aku tahu." Rasya memilih kata-katanya seperti memilih batu untuk menyeberang sungai. "Tapi Nai—kalau kamu menulis hal seperti ini, kamu harus tahu apa yang kamu masuki. Menulis tentang keluarga itu seperti membuka pintu yang tidak bisa ditutup lagi."
Naia menatap ibunya, lalu ke arah ruang kerja di mana naskah Rasya menumpuk.
"Kayak yang Ibu lakukan?" tanyanya pelan.
Rasya tidak punya jawaban yang jujur dan baik sekaligus. Jadi dia hanya memeluk anaknya, dan merasakan, di balik tulang rusuk yang rapuh itu, jantung yang berdetak persis seperti jantung tiga generasi sebelumnya.
(bersambung...)