Eka menghitung dengan cara seorang insinyur: data, pola, beban yang menumpuk sampai sesuatu retak.
Dan datanya tidak bagus.
Rasya tidur empat jam semalam, kalau itu. Kopi diganti kopi yang lebih kuat. Papan tulis di ruang kerja sekarang penuh foto dan benang—benang sungguhan, merah, dari toko jahit—menghubungkan tanggal dan nama seperti di film detektif murahan. Indri datang dua kali seminggu, dan setiap kali dia pergi, Rasya lebih jauh dari kursi makan, lebih dalam di tahun 2042 yang bukan miliknya.
Eka mencoba pendekatan langsung. Itu satu-satunya yang dia tahu.
"Aku khawatir," katanya, suatu malam, setelah anak-anak tidak ada dan rumah hanya milik mereka berdua dan hantu-hantu.
"Aku baik-baik saja."
"Kamu bilang itu sambil menatap papan tulis, bukan aku."
Rasya berbalik. Wajahnya tipis akhir-akhir ini. Eka mengenal wajah itu—dia melihatnya di foto Lara di tahun-tahun terakhir, perempuan yang dimakan oleh cerita yang dia tulis.
"Eka, ini pekerjaanku."
"Pekerjaanmu adalah menulis. Bukan menjadi detektif. Bukan menggali kuburan mertuaku." Dia duduk di seberangnya, menurunkan suaranya. "Aku insinyur, Ras. Aku percaya pada hal yang bisa diukur. Pondasi, beban, batas elastis. Dan aku tahu seperti apa struktur yang mulai retak. Kamu sedang retak."
"Itu dramatis sekali untuk orang yang katanya skeptis pada drama keluarga."
"Justru karena aku skeptis." Eka tidak tersenyum. "Aku tidak percaya rumah ini berhantu. Aku tidak percaya mimpi ayahmu mengirim pesan. Aku tidak percaya pada warisan kosmik. Tapi aku percaya pada apa yang dilakukan obsesi pada orang. Aku melihatnya melakukan itu pada ibumu. Aku tidak mau melihatnya melakukan itu padamu."
Untuk sesaat, pertahanan Rasya goyah. Karena di balik sarkasme suaminya yang membumi, ada ketakutan yang nyata, dan ketakutan itu adalah cinta yang sudah lelah berpura-pura tenang.
"Bu Sumarni dulu bilang—" Rasya mulai.
"Terapis itu sudah meninggal, Ras. Tapi idenya tidak. Coba terapi lagi. Atau—paling tidak—biarkan naskahnya istirahat sebentar. Sebulan. Kita ke Bali. Kita tidur. Kita jadi manusia normal yang punya masalah normal kayak genteng bocor dan anak yang tidak mau telepon."
Rasya menatap suaminya. Lelaki yang menikahinya bukan karena dramanya tapi meskipun dramanya. Lelaki yang membangun jembatan untuk hidup karena dia ingin menghubungkan hal-hal yang terpisah, mungkin termasuk istrinya dengan dunia yang masih hidup.
"Aku akan pikirkan," katanya.
Mereka berdua tahu itu artinya tidak.
Eka mengangguk, mengusap tangan istrinya sekali, dan naik ke kamar. Rasya tinggal di bawah, di hadapan papan tulis dan benang merah, dan untuk pertama kalinya bertanya-tanya apakah suaminya melihat sesuatu yang tidak bisa dia lihat sendiri.
Lalu ponselnya berkedip. Sebuah email. Dari kantor pengacara yang tidak dia kenal.
(bersambung...)