Kantor pengacara itu di Menteng, di gedung tua yang baunya seperti kertas dan rahasia.
Pak Hartono sudah sangat tua, salah satu dari jenis lelaki yang tampak seperti dia lahir mengenakan kemeja batik. Dia menjabat tangan Rasya, memandangnya lama, dan berkata, "Anda mirip ibu Anda. Tapi mata Anda mata ayah Anda."
"Anda kenal ayah saya?"
"Saya pengacaranya selama tiga puluh tahun. Dan dia meninggalkan satu instruksi yang harus saya tunda." Dia membuka laci, mengeluarkan map yang disegel lilin—lilin, seperti dari abad lain. "Klausul terakhir wasiatnya. Tidak dibuka saat pembagian harta. Syaratnya: dibuka hanya jika, sepuluh tahun setelah kematiannya, Anda masih ingin tahu."
Rasya menelan ludah. "Ingin tahu apa?"
"Itu di dalam." Pak Hartono mendorong map itu menyeberangi meja. "Beliau bilang Anda akan datang. Beliau bilang, kalau putri saya mewarisi keingintahuan ibunya, dia akan duduk di kursi itu suatu hari. Dan ternyata di sinilah Anda."
Tangan Rasya gemetar saat membuka segel.
Di dalam ada surat, tulisan tangan Bram yang miring dan tegas, dan sebuah dokumen bank.
Surat itu berbunyi:
"Rasya. Kalau kamu membaca ini, berarti kamu memilih jalan yang aku takutkan dan diam-diam aku harapkan. Aku tidak bisa menceritakan semuanya saat hidup—ada hal yang kalau kuucapkan, akan membahayakan orang yang masih bernapas. Tapi aku tidak tahan membawanya seluruhnya ke kuburan. Jadi aku tinggalkan kamu dua hal: uang, dan pintu.
Uangnya untuk membayar apa yang perlu dibayar—orang yang masih takut bicara biasanya mau bicara kalau ada yang menanggung risikonya. Pintunya adalah daftar di halaman kedua. Beberapa nama. Beberapa masih hidup. Mereka tahu potongan yang berbeda.
Aku tidak menyuruhmu menggali ini, Nak. Aku cuma memberimu kunci. Apakah kamu membuka pintunya, itu pilihanmu. Kalau kamu lebih bijak dariku, kamu akan membakar surat ini.
Tapi kamu anakku. Jadi kamu tidak akan membakarnya.
— Bapak"
Rasya membaca tiga kali. Dokumen bank menunjukkan dana yang dialokasikan atas namanya, ditahan dalam perwalian, untuk satu tujuan: "investigasi kebenaran, sesuai kebijaksanaan penerima manfaat."
Bram tahu. Bertahun-tahun sebelum stroke, ayahnya sudah tahu putrinya akan menjadi perempuan yang tidak bisa membiarkan pintu tertutup. Dia menyiapkan kunci dan menyiapkan uang dan menunggu, dari dalam kubur, sepuluh tahun.
"Halaman kedua," kata Rasya, membaliknya.
Tiga nama. Dua sudah dicoret oleh tangan Pak Hartono—meninggal, katanya pelan. Satu masih utuh.
Rasya memfotonya dan mengirimnya ke Indri sebelum dia sempat berubah pikiran.
(bersambung...)