Ara mengumpulkan mereka semua, yang seharusnya menjadi peringatan.
Anak tertua tidak mengadakan rapat keluarga kecuali ada yang harus dikatakan dan tidak boleh dibantah dulu. Mereka duduk di ruang makan Bintaro—Rasya, Eka, Dika yang datang dengan wajah lelah, Naia yang menyelipkan diri di sudut.
"Aku mau menjual rumah ini," kata Ara.
Hening yang turun seperti atap runtuh.
"Aku tahu aku yang mewarisinya secara simbolis," lanjut Ara, suaranya rata, terlatih. Dia selalu menjadi yang paling tenang, kurator memori keluarga, yang menyimpan foto dan menandai album. "Tapi justru karena itu aku punya hak bicara. Aku sudah jadi penjaga makam ini terlalu lama. Kita semua hidup berhantu. Aku tidak mau lagi."
"Ini rumah Nenek," kata Naia pelan dari sudut.
"Ini rumah yang membunuh Nenek perlahan," balas Ara. "Dan Kakek. Dan sekarang aku lihat Ibu di ruang kerja jam tiga pagi dengan benang merah di dinding, dan aku pikir—rumah ini tidak melepaskan kita. Kita yang harus melepaskannya."
Rasya merasakan sesuatu mengencang di dadanya. Bukan marah. Sesuatu yang lebih dalam, lebih tua. Rumah ini adalah satu-satunya tempat di mana ibunya masih ada, di mana ayahnya masih duduk di kursi sudut yang kosong, di mana setiap retak lantai punya cerita.
"Tidak," kata Rasya.
"Bu—"
"Aku bilang tidak." Suaranya tenang, dan itu membuatnya lebih keras. "Kamu boleh tidak suka. Tapi rumah ini tetap atas namaku sampai aku mati. Dan aku tidak akan menjual tempat di mana ibuku menulis."
"Aku setuju sama Ibu," kata Dika, mengejutkan semua orang—Dika yang biasanya melawan apa pun yang Rasya dukung. "Bukan karena hantu. Aku tidak percaya hantu. Tapi karena menjualnya tidak akan mengusir apa pun. Kita akan tetap berhantu, cuma tanpa alamat."
Ara memandang adiknya. "Jadi kalian semua mau hidup di museum?"
"Aku mau punya tempat untuk meletakkan ini semua," kata Dika, dan untuk sesaat topeng pragmatisnya retak. "Karena kalau rumahnya hilang, ke mana semua cerita ini pergi? Ke kepalaku? Aku tidak mau itu."
Mereka semua menoleh ke Naia, yang belum bicara sejak kalimat pertama.
Naia menggeleng pelan. "Aku belum bisa memutuskan."
Tiga suara, satu menentang, satu diam. Rumah itu menang malam itu, tapi semua orang tahu kemenangan itu sementara. Bintaro berdiri di antara mereka seperti tubuh yang belum mereka putuskan untuk dikubur atau dihidupkan kembali.
Setelah yang lain pergi, Rasya berdiri sendiri di ruang tamu. "Kamu dengar itu?" bisiknya, entah pada ibunya, entah pada rumah, entah pada dirinya sendiri. "Mereka berkelahi demi kamu. Persis seperti dulu."
Rumah itu, seperti biasa, hanya diam.
(bersambung...)