Malam itu Rasya bermimpi tentang ibunya, dan di pagi hari dia tidak yakin itu mimpi.
Dalam mimpi, dapur Bintaro seperti dulu—lebih kecil, sebelum direnovasi, dengan ubin biru pudar yang sudah dua dekade tidak ada. Lara berdiri di depan kompor, memasak untuk seseorang yang tidak ada. Punggungnya membungkuk, rambutnya kelabu seperti tahun terakhirnya.
"Kamu lagi," kata Lara tanpa berbalik. Bukan marah. Hanya capek, capek yang sudah lewat batas marah.
"Bu." Rasya merasa berusia tujuh tahun dan lima puluh tahun sekaligus. "Aku perlu tahu apa yang terjadi pada Bapak. Tahun terakhirnya."
Lara menuang sesuatu ke wajan. Bau bawang, nyata sekali, seperti bisa dimakan. "Kenapa kamu perlu tahu segalanya, Ras?"
"Karena aku tidak bisa menulis kalau tidak tahu."
"Kamu bisa." Lara akhirnya berbalik, dan wajahnya adalah wajah Rasya akan jadi suatu hari, wajah Naia juga, garis keturunan perempuan yang membawa terlalu banyak. "Aku menulis seluruh novel itu tanpa tahu separuhnya. Karena ada hal yang lebih indah saat tidak diketahui. Ada hal yang kalau kamu buka, tidak indah lagi—cuma sedih."
"Tapi itu kebenaran."
"Kebenaran." Lara tersenyum, dan senyum itu menyakitkan. "Kamu pikir kebenaran itu hadiah. Aku menghabiskan hidup menikahi seorang lelaki yang penuh kebenaran yang tidak bisa dia bagi. Tahu apa yang kupelajari? Bahwa kadang mencintai seseorang berarti membiarkan sebagian dirinya beristirahat di tempat yang tidak kamu masuki."
Rasya merasa air mata, panas, di mimpi yang terasa terlalu nyata. "Aku cuma mau mengenal kalian. Yang sebenarnya."
"Kamu mengenal kami." Lara mendekat, dan tangannya—kering, ringan—menyentuh pipi Rasya. "Kamu mengenal kami lewat sarapan yang kubuat, lewat caranya menutup pintu pelan supaya kamu tidak bangun, lewat novel yang kutulis untukmu. Itu kami yang sebenarnya. Yang lain cuma berkas."
"Bisakah aku membiarkannya beristirahat?" Rasya bertanya, dan dia tidak yakin tentang siapa—berkas, ibunya, ayahnya, dirinya.
Lara tidak menjawab. Dia berbalik ke kompor lagi, ke makanan untuk hantu, dan dapur mulai memudar seperti foto yang terlalu lama kena matahari.
"Bu—"
"Tutup pintunya kalau keluar," kata Lara, suara sudah jauh. "Selalu lupa tutup pintu, kamu."
Rasya terbangun pukul empat. Jendela kamar terbuka, gorden bergerak meski tidak ada angin. Bau bawang, samar, di udara—mungkin dari rumah tetangga, mungkin dari sesuatu yang tidak punya penjelasan membumi.
Dia duduk di tepi ranjang lama, mendengarkan rumah yang berderik dan menetap. Pertanyaan ibunya menggantung di kegelapan: bisakah dia membiarkan beberapa hal beristirahat?
Dia tahu jawabannya. Dan dia membenci jawabannya.
Di seberang ranjang, Eka bergumam dalam tidur, dan Rasya hampir membangunkannya, hampir menceritakan semuanya. Tapi dia tidak. Dia juga, ternyata, mewarisi diam keluarga ini.
(bersambung...)