Dika mengumumkannya dengan cara Dika: langsung, tanpa pemanasan, di dapur Bintaro sambil Rasya mencuci piring.
"Aku pindah ke Bandung."
Rasya mematikan keran. "Kapan?"
"Akhir bulan. Sudah dapat kerja—perusahaan logistik, posisi bagus. Apartemen kecil di dekat kantor." Dia bersandar di meja, lengan terlipat, postur pertahanan yang sudah Rasya kenal sejak anaknya remaja. "Aku sudah tanda tangan kontrak."
Jadi sudah final. Dika tidak pernah mengumumkan rencana, hanya keputusan yang sudah dibuat.
Rasya mengeringkan tangannya pelan, mengulur waktu untuk menemukan suaranya. "Karena Surabaya?"
"Karena semuanya." Dika menghela napas, dan untuk sesaat dia bukan anak yang memberontak melainkan orang dewasa yang lelah. "Bu, aku sayang Ibu. Aku sayang Ara, Naia, bahkan Ayah yang skeptis itu. Tapi aku tidak bisa hidup di dalam thriller."
"Ini bukan—"
"Ini iya." Suaranya lembut, bukan menyerang. "Kakek diawasi negara. Stroke karena tekanan rahasia. Tante Indri menyeret kalian keliling pulau mencari lelaki tua yang takut. Ibu bermimpi Kakek mengirim alamat. Naia menulis cerpen yang membuatku merinding. Ara mau menjual rumah karena katanya berhantu." Dia menggeleng. "Mungkin buat Ibu ini takdir. Buat aku ini cuma melelahkan. Aku cuma mau hidup yang biasa. Bangun, kerja, pulang, nonton sesuatu yang bodoh, tidur. Tanpa benang merah di dinding. Tanpa rahasia negara di silsilah keluarga."
Rasya membuka mulut untuk membela diri, lalu menutupnya. Karena anaknya benar. Dan karena ada bagian dirinya—bagian yang membumi, yang sudah lama dia kubur di bawah obsesi penulis—yang iri pada keinginan sederhana itu.
"Kamu pikir aku menyeret kalian ke dalam ini," kata Rasya akhirnya.
"Aku pikir kamu tidak bisa menahan diri," kata Dika. "Dan aku tidak menyalahkanmu. Itu warisanmu. Keingintahuan yang tidak bisa dimatikan. Tapi itu warisan yang tidak kupilih, Bu. Aku boleh tidak mewarisinya, kan? Itu hakku."
Dan di situ, di dapur kecil tempat tiga generasi memasak untuk hantu, Rasya menyadari sesuatu yang akan dia tulis nanti, bertahun-tahun ke depan, ketika dia akhirnya bijak: bahwa anak-anak tidak harus membawa rumah yang sama. Bahwa melepaskan juga bentuk cinta. Bahwa Dika, dengan pergi, mungkin melakukan hal paling sehat yang pernah dilakukan keluarga ini.
"Boleh," kata Rasya, dan suaranya hampir tidak pecah. "Tentu boleh."
Dika tampak terkejut, lagi—dia selalu menyiapkan diri untuk perang yang tidak datang. Lalu dia memeluk ibunya, kaku dan cepat, cara lelaki yang tidak terbiasa.
"Aku akan pulang Lebaran," katanya ke bahu Rasya. "Dan kalau Tante Indri mulai ngomong kasus lagi, aku akan pura-pura dapat telepon penting."
Rasya tertawa lewat air mata. "Setuju."
Akhir bulan, mobil Dika keluar dari pekarangan Bintaro, membawa kotak-kotak dan satu hidup yang dipilihnya sendiri. Rasya menonton dari teras, dari kursi yang dulu kursi ibunya, dan untuk pertama kalinya bertanya-tanya rumah mana sebenarnya yang menahan siapa.
(bersambung...)