"Mereka mengaktifkan kembali pengawasan padanya," kata Sutrisno.
Kata-kata itu menggantung di ruangan yang panas seperti es yang menolak mencair.
"BIN. Atau seseorang di dalamnya—saya tidak pernah tahu persisnya siapa yang memberi perintah, dan di dunia itu kamu memang tidak pernah tahu. Tapi di bulan-bulan terakhir Bram, dia diawasi. Bukan ditangkap. Bukan diinterogasi. Cuma—dipantau. Yang justru lebih buruk."
"Kenapa lebih buruk?" tanya Rasya, meski sebagian dirinya sudah tahu.
"Karena penangkapan punya akhir," kata Indri, pelan, menjawab sebelum Sutrisno. Dia tahu dunia ini juga, dari sisi yang lain. "Pemantauan tidak. Pemantauan adalah pesan: kami tahu apa yang kamu lakukan. Kami bisa datang kapan saja. Tidur nyenyak."
Sutrisno mengangguk. "Bram tahu dia diawasi. Tentu saja dia tahu—dia menghabiskan hidup menjadi orang yang mengawasi. Dia mengenali mobil yang sama dua hari berturut-turut. Dia tahu teleponnya disadap. Dia tahu setiap orang baru di lingkungannya mungkin bukan kebetulan."
Rasya memikirkan ayahnya di tahun terakhir itu. Lelaki yang dia kira hanya menua dengan tenang, membaca koran di teras, menutup pintu pelan-pelan. Sekarang gambar itu berubah: lelaki yang membaca koran sambil menghitung mobil di jalan, yang menutup pintu pelan bukan karena tua tapi karena waspada.
"Dia tidak pernah cerita pada Ibu," bisik Rasya.
"Tentu tidak." Sutrisno tersenyum getir. "Itu satu-satunya perlindungan yang bisa dia berikan pada keluarganya. Ketidaktahuan. Selama Lara tidak tahu, Lara aman. Selama kamu tidak tahu, kamu aman. Dia membawa pengawasan itu sendirian, di dalam dada yang sudah lelah, dan dia tidak membaginya dengan siapa pun."
Rasya merasa air matanya jatuh, dan dia tidak repot menghapusnya.
"Saya percaya," kata Sutrisno, dan suaranya sangat pelan sekarang, "bahwa stres itu yang membunuhnya. Bukan pengawasannya sendiri—mereka tidak menyentuhnya. Tapi tekanan untuk menahan semuanya, untuk berjaga setiap saat, untuk melindungi keluarganya dari pengetahuan yang akan membahayakan mereka—itu yang menghancurkan jantungnya. Dia tahu dia akan dihukum, dengan satu atau lain cara. Dan tubuhnya menghukumnya lebih dulu daripada negara."
Ruangan itu hening untuk waktu yang lama. Teh sudah dingin. Di luar, sore mulai turun, dan suara azan mengambang dari masjid kampung.
"Apakah perempuan itu—saksinya—masih aman?" tanya Rasya akhirnya.
"Masih," kata Sutrisno. "Sampai detik ini. Dan itu sebabnya saya hampir tidak bercerita. Karena setiap orang yang tahu adalah satu retakan lagi di dinding yang menjaganya. Kamu mengerti, Nak? Ayahmu mati untuk menjaga rahasia ini. Sekarang rahasia itu di tanganmu."
Rasya menatap lelaki tua itu. Lalu menatap Indri, yang untuk pertama kalinya dalam ingatan Rasya tampak tidak menang—hanya berat, hanya tua, hanya seseorang yang akhirnya menemukan dasar sumur dan menyadari dasar itu basah dengan air mata orang lain.
"Apa yang kita lakukan dengan ini?" tanya Rasya.
Tidak ada yang menjawab. Karena tidak ada jawaban yang benar.
(bersambung...)