Cerita Sutrisno keluar pelan, seperti air dari sumur tua—keruh dulu, lalu jernih.
"Ada seorang saksi," katanya. "Kasus yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan keluargamu. Korupsi besar, melibatkan orang-orang yang kalau kusebut namanya, kamu tidak akan bisa tidur. Saksi ini perempuan. Pegawai biasa. Dia melihat yang seharusnya tidak dia lihat, dan dia memutuskan untuk bicara."
Rasya mencatat dalam diam. Indri tidak mencatat—Indri menyimpan semuanya di kepala, cara lama.
"Masalahnya," lanjut Sutrisno, "saksi yang mau bicara adalah saksi yang mau dibungkam. Sistem resmi tidak bisa melindunginya—justru sistem yang bocor. Orang-orang di dalam yang menjualnya. Saya yang menanganinya, dan saya gagal menjaga rahasianya. Mereka tahu lokasinya. Dia akan mati dalam hitungan hari."
"Dan Bram?" tanya Indri.
"Saya datang ke Bram. Bukan sebagai atasan, bukan sebagai apa-apa—dia sudah pensiun. Saya datang sebagai orang yang putus asa." Sutrisno menutup mata. "Saya bilang: saya tidak bisa percaya siapa pun di dalam. Saya butuh orang luar. Orang yang bersih, yang tidak terhubung, yang masih punya jaringan tapi tidak punya kewajiban. Bram satu-satunya yang saya percaya."
"Dia bilang ya," kata Rasya. Bukan pertanyaan.
"Dia bilang ya." Sutrisno membuka mata. "Dia memindahkan perempuan itu. Off-book, sepenuhnya. Bandung dulu—itu perjalanan yang kalian temukan, ya? Saya lihat dari wajah kalian. Bandung adalah tempat persembunyian pertama. Lalu lebih jauh. Dia menggunakan jaringan lamanya, hutang-hutang lama, orang-orang yang berhutang padanya dari puluhan tahun kerja. Dia membakar semua koneksi yang dia simpan seumur hidup untuk satu perempuan yang bahkan tidak dia kenal."
Ruangan hening. Di luar, anak-anak gang bermain, suara hidup yang terus berjalan tak peduli sejarah apa yang sedang dibongkar di dalam.
"Berhasil," kata Sutrisno. "Itu yang luar biasa. Perempuan itu selamat. Dia bersaksi. Beberapa orang besar jatuh karenanya—kamu mungkin ingat beritanya, walau tidak akan pernah tahu nama saksinya. Dia hidup sampai sekarang, di tempat yang tidak akan saya sebut, dengan nama yang bukan namanya."
Rasya merasa sesuatu yang aneh: bangga, bercampur ngeri. Ayahnya, lelaki yang menyimpan tujuh pekerjaan dari istrinya, telah melakukan tindakan akhir yang murni dan rahasia dan mahal.
"Tapi," kata Sutrisno, dan suaranya gelap, "operasi seperti itu tidak terlihat tanpa dilihat. Memindahkan orang, membakar koneksi, bergerak di luar sistem—itu meninggalkan riak. Dan riak itu sampai ke tempat yang seharusnya tidak."
"Apa maksudmu?" tanya Indri, condong ke depan.
Sutrisno menatap mereka berdua, dan Rasya tahu, sebelum dia bicara, bahwa potongan terakhir akan menjadi yang paling berat.
"Ada agensi lain yang memperhatikan," kata Sutrisno. "Dan mereka tidak suka melihat hantu bergerak."
(bersambung...)