Sutrisno tinggal di rumah kecil di pinggir Surabaya, di gang yang panas dan rapat, di mana lelaki yang dulu memegang rahasia negara sekarang memegang selang menyiram tanaman cabai.
Indri mengetuk. Rasya berdiri di belakangnya, jantung berdebar.
Pintu terbuka sedikit. Mata tua, masih tajam, menilai mereka dalam sekejap—kebiasaan yang sama seperti Bram. "Saya tidak terima tamu."
"Saya Indri. Saya kenal Bram." Indri tidak bergerak. "Dan ini Rasya. Anaknya."
Nama Bram melakukan sesuatu pada wajah lelaki itu. Pertahanan tidak runtuh—lelaki seperti ini tidak runtuh—tapi melunak satu derajat. Dia memandang Rasya lama. "Kamu punya matanya," katanya akhirnya, kalimat yang sama yang sudah Rasya dengar dua kali, dan setiap kali terdengar seperti tuduhan dan berkat sekaligus.
Dia mempersilakan masuk. Rumahnya bersih, sederhana, penuh foto militer lama. Dia membuat teh dengan tangan yang gemetar tertahan, dan duduk, dan untuk waktu yang lama tidak bicara.
"Bram sudah meninggal sepuluh tahun," kata Sutrisno akhirnya. "Kenapa sekarang?"
"Karena dia menyuruh saya," kata Rasya, dan dia tahu kedengarannya gila, tapi Sutrisno tidak tertawa. Lelaki yang pernah bekerja di dunia bayangan tidak pernah meremehkan cara mati bicara pada yang hidup.
Sutrisno mengaduk tehnya pelan. "Saya berhutang pada ayahmu. Lebih dari yang bisa dibayar." Dia menatap dinding, ke masa lalu. "Dulu, tahun terakhirnya, dia melakukan satu kebaikan untuk saya. Pribadi. Bukan tugas resmi—justru sebaliknya. Tidak ada catatan. Tidak ada perintah. Cuma dia, memilih untuk menolong, padahal dia sudah harusnya pensiun, sudah harusnya menjaga jantungnya."
"Apa yang dia lakukan?" tanya Indri, suara rendah, hati-hati seperti menyentuh kabel yang mungkin masih dialiri listrik.
Sutrisno diam lama. Lalu: "Belum. Bukan sekarang." Dia mengangkat tangan saat Indri membuka mulut. "Dengar dulu yang penting. Ayahmu membayar harga, Nak. Stroke itu—" dia menggeleng, "—bukan kebetulan. Bukan cuma usia. Itu konsekuensi. Tekanan yang dia bawa di tahun terakhir itu, ketakutan yang dia tahan, jaga malam yang dia lakukan sendirian tanpa boleh cerita siapa-siapa—itu yang menghancurkan tubuhnya. Saya lihat dia tiga bulan sebelum stroke. Dia sudah seperti orang yang membawa rumah di punggungnya."
Rasya merasa dadanya dingin. Selama ini stroke adalah takdir, nasib, hal biologis yang menimpa lelaki tua. Sekarang ada bentuk lain: sebab dan akibat, harga dan pembayaran.
"Kenapa dia melakukannya?" tanya Rasya. "Kalau tahu itu akan membunuhnya?"
Sutrisno memandangnya, dan untuk pertama kalinya matanya basah. "Karena ada orang yang akan mati kalau dia tidak. Dan ayahmu—" suaranya pecah sedikit, "—ayahmu tidak bisa hidup dengan kematian yang bisa dia cegah. Itu yang membuatnya hebat. Dan itu yang membunuhnya."
Indri dan Rasya berpandangan. Mereka datang mencari satu potongan. Mereka menemukan sebuah luka.
"Ceritakan semuanya," kata Indri pelan. "Dari awal."
Sutrisno menarik napas panjang, seperti orang yang akan menyelam ke air yang dia tahu dingin.
(bersambung...)