Mereka tidak pernah duduk bersama dan menyebutnya begitu. Tapi pada musim itu, di rumah Bintaro, ada tiga Bram yang hidup berdampingan, dan masing-masing milik seseorang.
Bram milik Rasya adalah pria yang mencintai dengan baik tapi berbohong. Ia mengingat ayahnya mengantar ke sekolah, tangan besar di bahu kecilnya, tawa yang tulus saat ia jatuh dari sepeda dan menangis. Cinta itu nyata—Rasya tidak pernah ragu soal itu. Tapi di bawah cinta itu ada lapisan yang tidak pernah ia lihat: panggilan telepon larut malam, koper yang dikemas tanpa penjelasan, mata yang kadang melihat ke arah pintu seolah menunggu seseorang yang tidak datang. "Dia mencintai kami," kata Rasya pada Eka, "dan dia membohongi kami. Dua-duanya benar. Itu yang paling sulit."
Bram milik Indri adalah pria yang dikendalikan oleh tugas. Indri tidak punya kenangan tangan di bahu. Ia punya berkas. Ia melihat Bram sebagai aset yang dijalankan oleh sistem, manusia yang diubah menjadi fungsi, kesetiaan yang dipindahkan dari keluarga ke negara dan tidak pernah benar-benar kembali. "Orang seperti dia," kata Indri, "berhenti memilih sejak usia tiga puluh. Setelah itu mereka cuma mengeksekusi. Yang membuatku tidak bisa tidur bukan apa yang dia lakukan. Tapi berapa banyak yang bukan keputusannya."
Dan Bram milik Naia—yang termuda, yang paling baru, dan anehnya yang paling utuh—adalah pria yang terjebak di antara dua identitas yang membelahnya. "Kalian berdua benar," kata Naia di meja makan, dengan keberanian dua puluh tahun yang belum tahu apa yang ia injak. "Tapi kalian masing-masing cuma pegang separuh. Mama pegang ayah. Tante Indri pegang petugas. Nggak ada yang pegang manusianya, yang harus jadi dua-duanya tiap hari dan nggak boleh mengaku capek."
Hening turun di meja.
Rasya merasakan sesuatu bergeser di dadanya—bukan setuju, bukan menolak, tapi pengakuan bahwa anaknya telah menyentuh saraf yang ia hindari selama dua puluh tahun. Indri meletakkan sendoknya pelan, dan menatap Naia dengan tatapan yang ia simpan untuk saksi yang akhirnya berkata jujur.
"Berapa umurmu lagi?" tanya Indri.
"Dua puluh."
Indri tertawa, pendek dan getir. "Aku butuh empat puluh tahun untuk sampai ke kalimat itu."
Malamnya, Rasya tidak bisa tidur. Ia berpikir tentang bagaimana satu orang mati bisa menjadi tiga orang hidup, tergantung siapa yang merindukannya dan untuk apa. Ayahnya bukan teka-teki yang punya satu jawaban. Ia adalah ruang yang dibentuk oleh kebutuhan mereka masing-masing.
Mungkin itulah yang dilakukan orang mati pada kita, pikir Rasya. Mereka berhenti menjadi diri mereka, dan menjadi cermin tempat kita melihat apa yang paling kita takutkan tentang diri sendiri.
Di kamar sebelah, lampu Naia masih menyala sampai pagi.
(bersambung...)