Eka mengumumkannya saat sarapan, dengan nada yang ia pakai untuk membahas jadwal proyek—datar, rasional, tidak meninggalkan ruang untuk drama.
"Singapura. Tiga minggu. Proyek jembatan di Tuas butuh supervisi struktur."
Rasya mengangkat pandangan dari laptopnya. "Sekarang?"
"Sekarang."
Mereka berdua tahu itu bukan hanya proyek. Sudah berbulan-bulan Eka menonton istrinya menghilang—bukan secara fisik, tapi secara perlahan, ke dalam kotak-kotak dan catatan dan obsesi Indri yang menjalar seperti rayap ke fondasi rumah mereka. Rasya yang dulu menulis untuk memproses kini menulis untuk lari. Dan Eka, insinyur yang percaya bahwa setiap beban punya batas sebelum runtuh, mulai menghitung beban pernikahannya.
"Kamu marah," kata Rasya.
"Aku capek," kata Eka, dan kejujurannya lebih menyakitkan daripada amarah. "Aku menikahi kamu. Bukan ayahmu. Bukan ibumu. Bukan kasus terakhir Indri. Tapi tiga tahun terakhir aku tidur di samping orang-orang itu, bukan kamu."
Rasya tidak punya bantahan. Ia hanya punya rasa bersalah yang sudah terlalu lama ia abaikan.
"Aku nggak minta kamu berhenti," lanjut Eka, lebih lembut. "Aku cuma mau lihat apakah kamu bisa berdiri tanpa hantu-hantu itu menyangga. Dan aku mau lihat apakah aku bisa." Ia menatapnya. "Mungkin kita berdua perlu tahu apakah pernikahan ini bisa menahan kegelapan yang kamu warisi. Atau apakah aku cuma terus menambal retakan sampai aku sendiri retak."
Di bandara, mereka tidak bertengkar. Itu yang membuatnya menakutkan. Pertengkaran adalah tanda masih ada yang diperjuangkan. Ini lebih sunyi—dua orang yang saling mencintai memberi ruang yang mungkin saja terlalu lebar untuk diseberangi lagi.
"Telepon kalau kamu mau," kata Eka.
"Kamu juga."
Ia berbalik di pintu pemeriksaan, dan untuk sesaat Rasya melihat suaminya hampir tiga puluh tahun lalu—insinyur muda yang skeptis pada mitologi keluarganya, yang berkata di kencan pertama, "Aku nggak percaya rumah berhantu. Aku percaya fondasi yang buruk." Ia telah mencintai kepastiannya itu. Sekarang kepastian itu sedang naik pesawat menjauh darinya.
Di rumah Bintaro malam itu, Rasya berdiri di dapur yang sama tempat ibunya dulu memasak untuk Bram yang tidak ada. Ia membuat teh untuk dua, lalu menyadari, dan menuang satu kembali.
Indri datang membawa map baru. "Aku dapat sesuatu," katanya, mata bersinar dengan kelelahan dan kegairahan yang sama.
Rasya melihat map itu. Lalu melihat kursi kosong tempat Eka biasa duduk.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia tidak langsung membuka map itu.
(bersambung...)