Ibu Lara tidak menjawab langsung.
Dia berdiri pelan, ke dapur, membuat dua gelas teh. Teh melati yang dia simpan di lemari atas, untuk tamu khusus atau saat dia sendiri butuh tenang. Lara menunggu di sofa, masih menangis tapi sudah lebih pelan.
Ibu Lara kembali. Duduk di seberang Lara. Meletakkan teh di meja kayu kecil di antara mereka. Tidak menyuruh Lara minum dulu. Tidak bilang apa pun.
Cuma menunggu.
"Bu."
"Iya, sayang."
"Saya... saya rasa saya butuh cerita semuanya. Tapi saya tidak yakin saya bisa percaya kalau saya tidak gila."
"Lara. Saya akan dengar. Tidak akan komentar sampai Anda selesai."
Lara cerita semuanya. Tentang HP kedua. Tentang pesan-pesan dari "K"—lima pesan panik di Selasa siang. Tentang HP kerja yang Bram akhirnya tunjukkan tapi yang isinya "Identitas". "Safehouse". "Cooldown". "Exposure". Tentang Pratama Logistic yang berbagi alamat dengan kontraktor Kementerian Pertahanan. Tentang teman-teman kuliah Bram yang kerja di BIN.
Ibu Lara mendengarkan tanpa interupsi. Tehnya tidak disentuh. Tangan-nya di pangkuan, terlipat seperti perempuan dari generasinya yang diajarkan duduk dengan postur tertentu sejak kecil.
Setelah Lara selesai, ibu Lara diam lama. Mungkin dua menit penuh. Lara tidak memaksa.
"Lara."
"Iya, Bu."
"Saya... saya pernah mendengar cerita yang mirip."
"Mirip apa, Bu?"
"Mirip dari teman saya. Bu Tarmi. Dari Bandung. Anda tidak kenal—dia teman saya dari kuliah, kami jarang ketemu."
"Bu. Cerita apa?"
Ibu Lara menarik napas.
"Bu Tarmi punya anak perempuan, namanya Anik. Sebaya dengan Anda mungkin, sedikit lebih tua. Anik menikah tahun 2014. Suaminya kerja di kementerian, katanya. Tujuh tahun mereka nikah, satu anak. Lalu suatu hari—Anik cerita ke Bu Tarmi sambil menangis—suaminya tidak pulang. Tidak tahu di mana. Tidak ada jenazah, tidak ada surat. Cuma hilang."
Lara membeku.
"Bu. Anda... cerita ini ke saya untuk menakuti saya?"
"Tidak, sayang. Saya cerita karena... karena saya rasa Bram mungkin di pekerjaan yang sama."
"Apa pekerjaan?"
Ibu Lara menarik napas lagi. Memandang teh-nya yang sekarang sudah dingin.
"Lara. Saya tidak tahu pasti. Bu Tarmi juga tidak tahu pasti. Tapi setelah suami Anik 'hilang', enam bulan kemudian Anik dapat surat resmi dari kantor suaminya. Bukan kementerian yang dia kira. Surat dari instansi lain yang mengonfirmasi kematian dalam tugas. Dengan kompensasi yang besar dan klausula non-disclosure. Anik tidak boleh cerita siapa pun."
"Instansi apa?"
"Bu Tarmi tidak pernah cerita ke saya nama instansinya. Tapi Anik—setelah suaminya hilang—sangat berbeda. Dia jadi paranoid. Pindah rumah dua kali. Tidak pakai social media. Anaknya sekolah di sekolah privat dengan keamanan ekstra."
Lara menutup matanya.
"Bu. Anda... Anda pikir Bram juga seperti itu?"
"Lara. Saya tidak bilang Bram intelijen. Saya bilang ada kemungkinan Bram di pekerjaan yang punya cover sebagai pegawai swasta tapi sebenarnya bukan. Itu pekerjaan yang ada di Indonesia. Tidak banyak, tapi ada."
"Bu, kalau Bram di pekerjaan itu... dia tidak boleh cerita kepadamu?"
"Iya, Lara. Bahkan istri tidak boleh tahu. Itu kebijakan untuk melindungi—melindungi operasi, melindungi keluarga. Kalau keluarga tahu, mereka jadi sasaran kalau pihak lawan tahu."
"Bu. Saya nikahi seseorang yang... saya tidak benar-benar kenal."
Ibu Lara berdiri dari kursinya. Pindah ke sofa di sebelah Lara. Memeluk Lara dari samping.
"Lara. Sayang. Anda menikahi seseorang yang Anda kenal dengan baik. Bram mencintaimu—saya lihat itu setiap kali dia menatap Anda. Bram menjaga Rasya—saya lihat itu setiap kali dia mengangkat anak itu. Bram pulang setiap hari. Itu bukan kepura-puraan."
"Bu. Tapi pekerjaan dia—"
"Lara. Pekerjaan dia adalah satu lapisan. Tapi cinta dia adalah lapisan lain. Dua-duanya bisa benar."
Lara menatap ibunya. Wajah ibu yang sudah enam puluh dua, kerutan-kerutan halus di sekitar matanya, rambut yang sudah hampir putih semua dan dia tidak mau cat lagi.
"Bu. Apa yang harus saya lakukan?"
Ibu Lara menarik napas.
"Lara. Saya tidak akan menyarankan anda untuk konfrontasi langsung. Itu... itu bisa berbahaya."
"Berbahaya?"
"Lara, sayang. Kalau Bram di pekerjaan ini, ada orang lain yang tahu pernikahan kalian. Atasan-nya. Rekan-rekan-nya. Orang-orang yang akan bertindak kalau mereka pikir keamanan operasi terancam. Anda tidak boleh memberi sinyal bahwa Anda tahu—itu mengaktifkan protokol pengamanan yang tidak baik buat Anda."
"Bu. Anda menakuti saya."
"Saya tidak mau menakuti, Lara. Tapi saya jujur. Lebih baik Anda tahu sekarang daripada nanti."
Lara duduk di sofa lama. Menatap teh-nya yang dingin. Memikirkan.
"Bu. Saya pikir saya akan pulang. Saya... saya butuh waktu sendiri untuk berpikir."
"Lara. Tidak konfrontasi langsung. Saya tegaskan."
"Iya, Bu."
"Lara. Satu hal lagi."
"Iya?"
"Saya tahu ini sulit. Tapi—coba ingat siapa Bram di luar pekerjaan dia. Bram yang masak di weekend. Bram yang main lego dengan Rasya di lantai. Bram yang menatap Anda saat Anda bicara seolah Anda satu-satunya orang di ruangan."
"Bu."
"Itu Bram juga, Lara. Bukan cuma Bram yang berbohong tentang HP."
***
Lara pulang ke Bintaro. Sampai pukul satu siang. Rasya akan dijemput dari sekolah jam dua—dia akan ambil Rasya pakai mobil sendiri.
Lara duduk di ruang tamu. Memikirkan.
Tujuh tahun nikah. Bram tidak pernah mencurigakan—sebelum minggu ini. Tapi sekarang, semua kelihatan berbeda. Cara dia melamun di malam minggu. Cara dia kadang pulang dengan sepatu yang sedikit kotor walaupun dia bilang cuma di kantor seharian. Cara dia tidur dengan satu mata setengah terbuka—Lara pernah perhatikan tapi pikir itu kebiasaan suaminya yang aneh.
Cerita Bram yang dia susun selama tujuh tahun:
Lulus dari Universitas Indonesia, jurusan Manajemen.
Kerja di pemerintahan enam bulan setelah lulus, lalu pindah swasta.
Marketing manager di Pratama Logistic delapan tahun.
Bertemu Lara di pernikahan teman bersama, jatuh cinta, menikah, beli rumah Bintaro, punya Rasya.
Apakah cerita ini... real?
Atau apakah Bram membangun seluruh hidupnya—termasuk pernikahan—sebagai cover untuk pekerjaan yang Lara baru tahu mungkin ada?
Lara menutup matanya.
Dia akan jemput Rasya. Akan masak makan malam. Akan menyambut Bram seperti biasa.
Tapi malam ini, dia akan mulai... memperhatikan.
Memperhatikan suaminya seperti orang asing.