Tiga hari setelah Lara ke ibunya, Lara mulai mengikuti Bram.
Bukan setiap hari. Tidak mungkin—dia harus jaga Rasya. Tapi pada hari Kamis, Lara titipkan Rasya ke ibu Lara di Bekasi (dengan alasan Lara harus ke rumah klien toko online-nya), lalu ikuti Bram dari pulang kerja.
Lara naik Grab. Berjarak dari kantor Bram di Sudirman. Menunggu di kafe seberang gedung pukul lima sore. Pesan latte yang dia tidak benar-benar minum, hanya untuk excuse menempati meja yang menghadap pintu utama gedung Pratama Logistic.
Pukul lima tiga puluh, Bram keluar dari gedung. Tidak masuk ke mobilnya yang biasa diparkir di basement—mobil Innova putih yang Lara tahu nomor plat-nya. Tapi naik ojek online di pinggir jalan. Driver Gojek dengan helm hijau.
Lara mengikuti.
Lara minta sopir Grab-nya ikuti motor itu dengan jarak. Sopir Grab—pria tua dengan kumis tipis—menatap Lara di kaca spion dengan ekspresi yang Lara baca sebagai *ini cerita perselingkuhan*. Tidak komentar. Cuma mengangguk dan ikut.
Ojek Bram menuju Kemang. Bukan ke restoran, bukan ke kafe. Ke gang kecil di belakang Kemang Raya, ke apartment lima lantai yang Lara tidak pernah dengar sebelumnya. Apartment tua, gaya 90-an, fasad cat yang sudah pudar di banyak tempat.
Lara melihat Bram turun dari ojek. Membayar. Masuk ke gedung lewat pintu samping, bukan pintu utama. Naik tangga (tidak ada lift di gedung itu). Ke lantai tiga.
Lara turun dari Grab di seberang, di ujung gang. Memberi tip yang tidak biasa ke sopir—seratus ribu—dengan permintaan tidak komentar tentang trip ini ke siapa pun. Sopir mengangguk. Pergi.
Lara berdiri di seberang gedung. Bersembunyi sedikit di balik tiang lampu. Menatap.
Tiga puluh menit. Bram tidak keluar.
Empat puluh menit. Tidak keluar.
Lima puluh menit, hampir satu jam—Lara mulai dingin di kulit walaupun udara Jakarta panas, dan menatap HP-nya yang masih tidak ada pesan dari Bram (yang dia kira sedang di kantor).
Pukul tujuh lima belas, Bram keluar dari gedung. Mengenakan baju yang berbeda dari yang dia pakai pagi tadi—kaos hitam dan jeans, bukan kemeja kantor putih dan slacks abu-abu yang Lara siapkan tadi pagi.
Lara membatu.
Bram tidak melihat dia. Naik ojek lagi—Gojek lain, helm hijau yang sama tapi driver berbeda. Pergi ke arah Sudirman.
Lara—yang tubuhnya gemetar—masuk ke gedung apartment.
Ada satpam tua di lobi. Mengenakan seragam putih yang sudah lusuh. Mengangguk pada Lara saat dia masuk.
"Selamat malam, Bu. Cari siapa?"
Lara berpikir cepat. Tidak boleh terlihat panik. Tidak boleh terlihat seperti istri yang ngintai.
"Saya cari... tetangga teman saya. Tapi dia tidak balas pesan saya. Saya pikir mungkin saya naik dulu, ketuk pintu langsung."
"Ke lantai berapa, Bu?"
"Tiga."
"Oh, ya, banyak unit di lantai tiga. Anda nomor berapa?"
Lara menelan ludah. Dia tidak tahu nomor unit Bram.
"Saya... saya cek nomor di HP. Sebentar."
Lara mundur dari satpam. Pura-pura cek HP. Buka WhatsApp. Pura-pura scroll. Lalu—
"Maaf, Pak. Saya salah unit. Ternyata teman saya bilang itu di Kemang Pratama, bukan di sini. Saya keluar dulu."
"Oh, OK, Bu. Hati-hati."
Lara keluar gedung. Naik Grab pulang ke Bintaro—dia tidak bisa langsung jemput Rasya dari ibu, harus tenang dulu di rumah.
Di mobil, dia membuka HP-nya. Buka aplikasi catatan. Yang kosong, baru dia install minggu lalu—aplikasi catatan terpisah dari yang biasa dia pakai, supaya kalau Bram pinjam HP-nya tidak akan ketemu.
Tulis: "Apartment di Kemang Lama. Lantai 3. Bram ganti baju di sini. Pukul 17:30 sampai 19:15. Hari Kamis."
Save.
***
Bram pulang ke Bintaro pukul delapan tiga puluh malam. Membawa tas kerja seperti biasa. Memakai kemeja kantor putih (tidak kaos hitam dan jeans). Lara sudah jemput Rasya dan masak makan malam—nasi goreng kambing yang Bram suka.
"Sayang. Saya pulang."
"Mas. Bagaimana hari ini?"
"Biasa. Macet di Sudirman pulang. Banyak rapat hari ini."
Lara tersenyum. Mengangguk. Menyajikan nasi goreng.
Tapi di dalam, sesuatu pecah.
Bram ganti baju di apartment Kemang sebelum pulang. Lalu ganti baju lagi sebelum sampai ke Bintaro—mungkin di toilet bandara, atau mall, atau di mana saja yang anonim.
Berarti... apa pun yang dia lakukan setelah keluar dari kantor pulang menuju... bukan rumah. Atau, lebih mungkin, kantor adalah cover. Dan apartment Kemang adalah... tempat sebenarnya.
Setelah makan malam—Rasya yang ribut tentang temannya di sekolah yang punya hamster baru, Bram yang mendengarkan dengan ketertarikan ayah yang tidak dipalsukan—mereka ke ruang tamu. TV menyala dengan acara kuis yang Bram suka. Rasya di lantai dengan lego. Lara di sofa.
Lara mencoba terlihat normal. Tertawa pada momen-momen yang lucu di TV. Membantu Rasya bangun menara lego. Mengomentari rencana weekend yang Bram bicarakan.
Tapi setiap kali Bram menatap dia, dia khawatir Bram bisa baca di matanya.
Pukul sepuluh, Rasya tidur. Bram dan Lara naik ke kamar.
Bram membaca buku—kebiasaan tidurnya. Lara berbaring di sebelahnya, pura-pura tidur.
Tapi otaknya tidak diam.
Bram di apartment Kemang lantai tiga selama satu jam empat puluh lima menit. Tidak mungkin pertemuan kerja biasa—pertemuan kerja kantor di restoran atau kantor cabang, bukan apartment. Apartment lantai tiga di Kemang adalah... base operasi. Atau tempat tinggal kedua. Atau tempat seseorang yang Bram temui rutin.
Lara tidak tidur sampai dini hari. Saat dia tidur, mimpinya tentang Bram yang berjalan menjauh ke gang Kemang dan tidak pernah berbalik.
Pagi berikutnya, Lara menyalakan HP-nya. Buka contacts.
Mencari nama yang sudah lama tidak dia kontak—tapi yang sekarang dia butuh.