Rasya selalu mengira ia tahu cerita itu. Ayahnya pensiun "untuk keluarga." Itu yang diceritakan ibunya, yang diceritakan Bram sendiri pada acara perpisahan kecil di rumah Bintaro—kue, beberapa kolega berbaju rapi yang memanggilnya "Pak Bram" dengan hormat yang aneh, pidato singkat tentang "memilih hal yang penting."
Rasya berumur dua belas waktu itu. Ia ingat berpikir betapa dewasanya ayahnya, betapa tenang. Memilih keluarga di atas karier. Pahlawan kecil dalam narasi yang ia bawa ke masa dewasa, lalu ke novel-novelnya, lalu hampir ke biografi yang sedang ia tulis.
Sekarang ia tahu: tidak ada yang dipilih.
Ia duduk di ruang kerja lama Bram, di kursi yang masih berbau samar tembakau pipa meski sudah satu dekade lebih, dan menyusun ulang seluruh adegan itu dengan informasi baru. Pidato "memilih hal yang penting"—itu naskah. Para kolega berbaju rapi—mungkin bukan teman, mungkin pengawas yang memastikan exit berjalan bersih. Ketenangan ayahnya—bukan kedamaian. Itu disiplin orang yang sudah menelan kekalahan dan dilatih untuk tersenyum di atasnya.
"Bahkan keluarnya pun kebohongan," kata Rasya pada Indri lewat telepon, suaranya datar. "Dia bilang ke ibuku itu sukarela. Dia bilang ke aku dia memilih kami. Tapi dia didorong keluar. Dan dia membungkusnya jadi cerita cinta supaya kami nggak pernah tahu dia kalah."
"Mungkin perlu," kata Indri di seberang. "Pikirkan apa jadinya kalau dia jujur. 'Anak-anak, Ayah dipecat halus karena melanggar aturan rahasia yang nggak boleh Ayah ceritakan.' Itu bukan kebenaran yang bisa dipakai keluarga untuk hidup."
"Jadi dia berbohong supaya kami bisa mencintainya dengan tenang."
"Dia berbohong," kata Indri pelan, "supaya kalian punya ayah, bukan kasus."
Rasya menutup telepon dan duduk lama dalam keheningan ruang kerja itu. Ia berpikir tentang berapa banyak kebohongan yang sebenarnya adalah perisai. Tentang ibunya, yang menerima cerita "sukarela" itu—apakah Lara percaya, atau apakah Lara juga memilih untuk tidak menggali, karena menggali berarti meruntuhkan rumah tempat mereka semua tinggal?
Di rak, ia melihat foto perpisahan itu. Bram tersenyum, satu tangan memegang kue, satu tangan di bahu Rasya kecil. Dulu foto itu adalah bukti cinta. Sekarang Rasya melihat sesuatu yang baru di mata ayahnya—sesuatu yang dulu ia kira kelelahan ringan. Sekarang ia mengenalinya: itu wajah orang yang sedang berakting menjadi versi dirinya yang lebih bahagia, demi anak yang memegang tangannya.
Ia menyentuh kaca foto itu.
"Kamu nggak harus melakukannya sendirian," bisiknya pada ayahnya yang sudah lama tiada. "Kamu bisa cerita."
Tapi ia tahu jawabannya. Pria seperti ayahnya tidak bercerita. Mereka melindungi dengan keheningan, dan menyebut keheningan itu cinta, dan dengan cara yang menyakitkan—mereka benar.
(bersambung...)