Pertanyaan itu mulai menggerogoti Rasya seperti yang biasa dilakukan pertanyaan terbaik: pelan, di malam hari, saat ia setengah tidur.
Apakah ibu mencurigai?
Apakah Lara—penulis, perempuan yang membaca manusia seperti membaca paragraf—pernah merasa bahwa "exit" suaminya terlalu bersih? Terlalu rapi? Sebuah cerita yang ujungnya diikat terlalu sempurna, seperti yang selalu Lara peringatkan dalam kelas menulisnya: "Kalau akhirnya terlalu rapi, biasanya ada yang dipotong."
Rasya teringat sesuatu. Bertahun-tahun lalu, ibunya pernah memberikan wawancara panjang untuk sebuah majalah sastra—rekaman audio, untuk profil yang akhirnya terbit. Rasya tahu file itu masih ada, didigitalkan dan disimpan di hard disk lama. Ia mencarinya hingga subuh, dan menemukannya: dua jam suara ibunya, hidup kembali dari speaker laptop.
Ia tidak mendengarkan untuk sastra. Ia mendengarkan untuk keraguan.
Sebagian besar wawancara itu seperti yang ia ingat—Lara yang cerdas, hangat, sedikit menghindar. Bicara tentang proses, tentang Jakarta, tentara karakter. Lalu, di menit ke delapan puluh tiga, pewawancara bertanya tentang suaminya, tentang bagaimana pernikahan memengaruhi tulisannya.
Ada jeda. Rasya memutar ulang bagian itu tiga kali.
"Suami saya," kata suara Lara, dan ada sesuatu di nadanya—hati-hati, terukur, seperti orang berjalan di atas es yang ia tahu tipis, "adalah orang yang paling saya kenal dan paling tidak saya kenal sekaligus. Itu bukan kontradiksi. Itu pernikahan." Tawa kecil, untuk meredakan. Lalu, lebih pelan: "Ada ruangan-ruangan dalam diri orang yang kita pilih untuk tidak masuki. Bukan karena pintu terkunci. Tapi karena kita tahu, kalau masuk, kita harus mengubah cerita yang membuat kita bisa terus mencintai."
Rasya menghentikan rekaman.
Ibunya tahu. Atau setidaknya, ibunya tahu bahwa ada sesuatu yang tidak ia ketahui—dan memilih, secara sadar, untuk tidak mengetuk pintu itu. Bukan dari kebodohan. Dari kebijaksanaan yang menyakitkan. Lara membuat keputusan yang sama dengan yang Rasya sedang pertimbangkan sekarang: bahwa kebenaran utuh kadang bukan hadiah, melainkan beban yang menghancurkan rumah.
Rasya duduk dalam gelap, mendengar napas ibunya di antara kata-kata, dan merasa tiba-tiba sangat dekat dengannya—dua perempuan, satu generasi terpisah, menghadapi pria yang sama yang menyimpan ruangan yang sama, dan memilih bagaimana mencintai di sekitar ruangan itu.
"Kamu tahu," kata Rasya pada rekaman, pada ibunya, pada gelap. "Dan kamu tetap menulis novel itu. Kamu nggak menutup mata. Kamu cuma memutuskan untuk mencintai dia dengan ruangan tertutup dan semua."
Ia memutar lagi tawa kecil ibunya. Dan untuk pertama kalinya, Rasya mengerti bahwa keraguan dan cinta bisa hidup di rumah yang sama—seperti mereka semua, di Bintaro, selama ini.
(bersambung...)