Butuh delapan bulan lagi setelah malam itu sebelum Rasya menulis kalimat terakhir biografi orangtuanya.
Dia menulisnya di meja yang sama di ruang kerja Bintaro, di pagi yang hujan, dengan map Indri tetap tertutup di laci di sebelahnya. Dia sudah membukanya, tentu—membaca setiap halaman, setiap nama yang diredaksi, setiap potongan yang Indri kumpulkan selama tiga puluh tahun. Dan kemudian dia memutuskan apa yang masuk dan apa yang tetap diam.
Itu keputusan tersulit dalam karier menulisnya.
Ada skandal di map itu. Ada sudut yang, jika dia tulis, akan membuat buku ini bestseller—rahasia negara, peran ayahnya, target yang dibuat dari ibunya. Rafi, andai dia tahu isi map itu, akan menjadikannya investigasi seumur hidup. Tapi Rasya bukan jurnalis. Dia anak perempuan dari dua orang yang mencoba saling mencintai dalam keadaan mustahil, dan dia menulis buku tentang itu.
Jadi dia menulis lembut. Dia menulis jujur. Bukan skandal, bukan hagiografi. Bukan pengkultusan ibunya jadi santa, bukan penghakiman ayahnya jadi monster. Dua orang. Rumit. Manusia.
Dia menulis tentang atap yang bocor di musim hujan pertama dan janji Bram untuk memperbaiki semuanya. Dia menulis tentang ruangan terkunci di dalam ayahnya dan pilihan ibunya untuk mencintai di sekelilingnya. Dia menulis tentang Bu Sumarni dan sesi-sesi terapi yang gagal dan berhasil dengan cara yang tidak terduga. Dia menulis tentang Indri yang mengejar keadilan selama tiga puluh tahun untuk akhirnya belajar melepas.
Dan dia menulis tentang dirinya sendiri—anak yang menonton, yang mewarisi, yang akhirnya mengerti bahwa kau tidak bisa menyembuhkan warisan dengan menulisnya. Kau hanya bisa menampungnya dengan lebih lembut.
Kalimat terakhir datang tanpa dia rencanakan. Dia mengetiknya, lalu duduk diam menatapnya:
"Mereka mencintai satu sama lain dengan tidak sempurna, di rumah yang tidak sempurna, dan rumah itu masih berdiri, dan begitu juga cinta itu, dengan cara yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang pernah mewarisi keduanya."
Dia menyimpan dokumen. Dia tidak menangis—dia sudah melewati tahap itu bertahun-tahun lalu. Dia hanya merasa sesuatu yang seperti damai, atau setidaknya gencatan senjata.
Dia turun ke dapur, membuat teh, dan menelepon Eka di tempat kerja.
"Selesai," katanya.
"Selesai bagaimana?" tanya Eka, walau dia tahu.
"Bukunya. Orangtuaku. Selesai."
Hening sejenak di ujung sana. Lalu, suara lelaki rasional yang mencintainya: "Bagaimana perasaanmu?"
Rasya menatap hujan di jendela, pohon mangga yang basah, rumah yang menampung semuanya.
"Ringan," katanya, terkejut bahwa itu benar. "Aku merasa ringan."