Malam itu, ketika tamu-tamu lain sudah pulang dan hanya keluarga inti yang tersisa, mereka duduk melingkar di ruang tengah—tempat yang sama di mana semua keputusan keluarga ini pernah diambil dan ditunda.
"Baik," kata Rasya. "Rumah. Kita harus memutuskan. Aku tidak mau ini menggantung lebih lama."
Sejenak tak ada yang bicara. Lalu, seperti biasa, Dika yang pertama.
"Aku tidak mau menjualnya," katanya, mengejutkan dirinya sendiri seperti juga yang lain. "Tapi aku juga tidak mau ini jadi kuil. Aku tidak mau pulang ke sini dan merasa harus berbisik karena ada hantu di setiap sudut. Aku ingin menyimpannya sebagai tempat berkumpul. Tempat di mana kita masak terlalu banyak dan bertengkar soal politik dan tertawa. Bukan museum kesedihan."
Rasya mengangguk pelan. Itu lebih bijak dari yang dia kira akan keluar dari anak tengahnya yang pemberontak.
"Aku setuju," kata Ara, "selama bukan aku yang harus mengelola semuanya. Aku mencintai rumah ini. Aku merawat foto-foto dan cerita-ceritanya. Tapi aku tidak bisa jadi penjaga gerbang seumur hidup. Kalau ada yang mau urus administrasi, perbaikan, jadwal—aku ikut. Aku tidak mau memimpin."
"Aku bisa bantu urus yang teknis," kata Eka tenang. "Atap, listrik, pajak. Itu hal yang aku bisa pegang."
Naia, yang sedari tadi diam, akhirnya bersuara. "Kita bisa menulis tentangnya," katanya. "Maksudku—rumah ini punya sejarah sastra. Nenek Lara menulis di sini. Mama menulis di sini. Kenapa tidak kita buka? Tidak setiap hari. Mungkin satu hari seminggu. Orang yang peduli pada warisan sastra bisa datang. Bukan untuk uang. Untuk meneruskan."
Rasya menatap anak bungsunya, penulis seperti neneknya, dan merasakan sesuatu yang seperti harapan dan kecemasan sekaligus.
Dia membiarkan keheningan mengendap, lalu berbicara dengan suara yang sudah dia putuskan.
"Begini keputusanku—dan aku ingin tahu kalau ada yang keberatan keras. Rumah dipertahankan. Atas nama keluarga, dikelola bersama, Eka pegang yang teknis, Ara pegang yang memori. Tersedia kapan pun siapa pun butuh tempat pulang. Dan—" dia menatap Naia, "—satu hari dalam seminggu, kita buka untuk yang tertarik pada warisan ini. Bukan kuil. Bukan museum. Rumah yang masih hidup, yang kebetulan punya cerita."
Tak ada yang keberatan. Dika mengangkat gelasnya. "Untuk rumah yang masih berisik," katanya, mengutip neneknya tanpa tahu.
Mereka semua minum. Dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Rasya merasa bebannya sedikit lebih ringan.