Indri menunggu sampai anak-anak yang lebih muda beranjak ke dapur dan ruangan menyusut jadi lingkaran kecil di sekitar kursinya. Lalu detektif tua itu meletakkan cangkir kopinya dan berbicara.
"Aku mengenal ibumu sejak universitas," katanya pada Rasya, tapi cukup keras agar semua mendengar. "Kami satu kos. Dia menulis, aku membaca peta dan jadwal kereta untuk hobi—pertanda buruk untuk seseorang yang nanti jadi detektif." Bibirnya naik sedikit. "Lara satu-satunya orang yang tidak pernah menganggapku aneh karena terlalu banyak bertanya."
Naia mendekat, dan bahkan Rafi—yang sepanjang sore mencari sudut—mendengarkan dengan kewaspadaan profesional.
"Ketika ibumu meninggal," lanjut Indri, "aku tahu dia pergi dengan tenang—tidur, di kamarnya sendiri, persis seperti yang dia mau. Itu satu hal yang tidak pernah aku ragukan. Tapi kematiannya membuka lagi hal lain yang tidak pernah selesai untukku." Dia mengetuk map tipis di pangkuannya. "Ada pola di sekitar tahun terakhir ayahmu yang tidak pernah cocok dengan cerita resmi. Bertahun-tahun aku mengejar itu. Berkas intelijen ayahmu. Hal-hal yang diredaksi. Nama-nama yang dihapus. Aku mencari keadilan."
"Dan kau menemukannya?" tanya Dika.
Indri menatapnya lama. "Aku menemukan cukup untuk tahu bahwa ada kebenaran yang disegel oleh negara, dan ada kebenaran yang, jika kuucapkan, akan membahayakan orang yang masih hidup. Karina di Bali memegang satu potongan. Jurnal Bu Sumarni memegang potongan lain. Aku menyatukannya sebanyak yang aku bisa."
Dia menutup map tanpa membukanya.
"Tapi inilah yang kupelajari, dan butuh tiga puluh tahun untuk mempelajarinya." Suaranya melembut, kehilangan ketajaman detektif dan menemukan sesuatu yang lebih tua. "Aku mencari keadilan. Tapi keadilan bukan yang Lara butuhkan. Lara butuh dicintai meski rumit. Dia butuh ditemani, bukan dibalaskan. Rasya, kau memahami itu—kau menulisnya, walau mungkin kau belum tahu kau menulisnya. Ibumu juga memahaminya. Dia memilih hidupnya dengan mata terbuka."
Rasya merasa matanya panas. "Lalu kenapa kau terus mengejar?"
"Karena aku detektif," kata Indri sederhana. "Dan karena melepaskan adalah hal tersulit yang pernah diminta dariku. Tapi aku di sini sekarang untuk melepaskan. Map ini—" dia mengangkatnya, "—isinya akan kuberikan padamu, Rasya. Kau yang memutuskan. Apa yang masuk ke buku, apa yang tetap diam. Aku terlalu tua untuk memegang rahasia laki-laki yang sudah mati."
Dia menyerahkan map itu ke tangan Rasya, dan terasa lebih berat dari kertas yang seharusnya.
"Kasus terakhirku," kata Indri. "Bukan menemukan kebenaran. Tapi tahu kapan kebenaran sudah cukup."