Setelah makan, ketika piring-piring sudah disingkirkan dan kopi sudah dituang, Indri meminta untuk dipindahkan ke kursi dekat jendela—tempat dari mana dia bisa melihat pohon mangga.
"Aku ingat hari mereka membeli rumah ini," katanya, dan semua orang diam.
"Lara meneleponku malam itu. Dia begitu bersemangat sampai aku pikir ada yang salah. Dia bilang, 'Indri, ada bocor di atap, ada retak di dinding, halaman seperti hutan, dan aku sangat bahagia.'" Indri tertawa, suara kering yang manis. "Bram berdiri di sampingnya saat itu, aku dengar dari telepon. Dia bilang, 'Akan kuperbaiki semuanya.' Dan Lara bilang, 'Aku tahu kau akan bilang begitu.'"
Naia mencondongkan tubuh, penulis muda yang lapar akan asal-usul. "Mereka bahagia waktu itu, Eyang?"
Indri diam sejenak, dan Rasya tahu sahabat ibunya itu cukup tua sekarang untuk tidak berbohong demi kenyamanan.
"Mereka bahagia. Itu benar. Tapi bahagia bukan berarti sederhana." Dia menatap retakan halus di langit-langit, retakan yang sudah ditambal berkali-kali. "Bram sudah menyimpan rahasianya bahkan saat itu—pekerjaannya, dunianya yang tidak bisa dia bawa pulang. Lara tahu ada ruangan di dalam suaminya yang terkunci. Dia memilih mencintainya tetap, di sekeliling ruangan terkunci itu."
"Itu terdengar kesepian," kata Dika, pragmatis seperti biasa.
"Kadang ya," kata Indri. "Tapi dengar, Nak. Aku sudah hidup lama. Aku sudah melihat banyak pernikahan—yang jujur sepenuhnya dan hancur, yang penuh rahasia dan bertahan. Tidak ada rumus." Dia menatap Rasya. "Yang aku tahu hanya ini: cinta di rumah ini nyata. Bahkan ketika segalanya rumit. Justru karena segalanya rumit dan mereka tetap memilih."
Rasya merasakan sesuatu mengencang di dadanya. Selama bertahun-tahun dia menulis tentang orangtuanya, mencoba menangkap mereka di halaman, dan selalu ada yang lolos. Mungkin inilah yang lolos: bukan fakta, bukan rahasia, tapi kebenaran sederhana yang hanya bisa diucapkan perempuan berusia tujuh puluhan dari kursi dekat jendela.
"Rumah ini melihat semuanya," lanjut Indri. "Pertengkaran, rekonsiliasi, malam-malam Bram pulang dengan wajah yang tidak bisa dia jelaskan. Dan Lara menulis. Selalu menulis. Rumah ini menampung tulisannya seperti menampung kami semua." Dia menoleh ke arah pohon mangga. "Mereka menanam pohon itu tahun kedua. Lihat sekarang. Lebih tinggi dari rumah."
Keheningan jatuh, lembut dan penuh. Ara diam-diam memotret Indri di dekat jendela, satu foto lagi untuk arsip yang tidak akan pernah selesai.
"Aku senang kalian semua di sini," kata Indri akhirnya. "Aku senang rumah ini masih berisik."