Mereka putus di sebuah kafe di Bekasi, yang entah kenapa terasa tepat—tempat netral, bukan rumah siapa pun.
Naia sudah merasakannya datang berminggu-minggu. Rafi semakin gelisah sejak buku ibunya terbit, semakin sering bertanya tentang map Indri yang dia tahu ada tapi tidak pernah dia lihat, semakin frustrasi bahwa cerita yang sebenarnya—sudut konspirasi, rahasia negara, kebenaran yang diredaksi—tidak pernah sepenuhnya terungkap.
"Ada cerita di sana, Naia," katanya, untuk kesekian kali, mengaduk kopinya yang sudah dingin. "Cerita besar. Kakekmu, intelijen, operasi terakhirnya yang tidak pernah benar-benar dijelaskan. Aku punya sumber yang bisa mengonfirmasi sebagian. Kalau kita tarik benangnya—"
"Tidak ada 'kita', Rafi." Naia berkata pelan tapi tegas. "Itu bukan benang untuk ditarik. Itu hidup orang. Itu keluargaku."
"Itu kebenaran. Bukankah kebenaran penting?"
Naia memikirkan Indri yang menyerahkan map setelah tiga puluh tahun, memilih melepas. Memikirkan ibunya yang membaca setiap halaman lalu memutuskan apa yang tetap diam. Memikirkan kata-kata dosen yang dia baca di salah satu ulasan: tidak semua harus diceritakan untuk menjadi benar.
"Kebenaran penting," katanya akhirnya. "Tapi tidak setiap kebenaran milik kita untuk dibongkar. Ada orang yang masih hidup. Ada Bu Karina di Bali. Ada Eyang Indri. Membongkar semuanya tidak akan menyembuhkan apa pun. Itu hanya akan melukai orang demi sebuah artikel."
Rafi menatapnya, dan Naia melihat di matanya bahwa dia tidak akan pernah mengerti. Bukan karena dia jahat—dia tidak jahat. Tapi dia menginginkan skandal, dan Naia memilih rekonsiliasi, dan kedua hal itu tidak bisa hidup di rumah yang sama.
"Aku pikir kau ingin jadi penulis," kata Rafi, dan ada tuduhan di sana. "Penulis mengejar cerita."
"Aku ingin jadi penulis," kata Naia. "Tapi aku mulai mengerti penulis macam apa. Bukan macam yang membakar keluarganya demi bahan."
Mereka diam lama. Kopi semakin dingin. Di luar, Bekasi bergerak dengan klaksonnya yang abadi.
"Jadi ini selesai," kata Rafi akhirnya.
"Ini selesai," kata Naia.
Tidak ada teriakan. Tidak ada drama. Hanya dua orang muda yang menyadari mereka menginginkan hal yang berbeda dari dunia, dan cukup dewasa untuk mengakuinya. Rafi membayar kopi. Dia menawarkan mengantar Naia, dan Naia bilang dia akan naik kereta saja.
Di kereta pulang ke Jakarta, Naia menangis sedikit—putus bersih tapi tetap sedih, karena dia mencintai Rafi dengan cara yang nyata. Lalu dia mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi catatan, dan mulai menulis. Bukan tentang Rafi. Bukan tentang skandal.
Tentang batas. Tentang apa yang kita pilih untuk tidak ketahui demi orang yang kita cintai.
Dia menulis sampai keretanya tiba.