Naia menulis novelnya selama setahun penuh, di kamar kosnya di dekat kampus, di kursi belakang bus, di meja sudut Bintaro pada hari-hari ketika dia pulang.
Itu bukan tentang keluarganya. Dia bersikeras soal itu pada dirinya sendiri. Tokoh-tokohnya punya nama lain, kota lain, sejarah lain. Tidak ada detektif, tidak ada intelijen, tidak ada rumah Bintaro.
Tapi itu juga tidak bukan tentang keluarganya. Karena tentang apa lagi seorang penulis menulis kalau bukan tentang air yang membentuknya?
Novelnya tentang seorang perempuan muda yang menemukan sebuah surat—surat yang mengungkapkan rahasia tentang neneknya yang sudah meninggal. Dan perempuan itu harus memutuskan: membongkarnya, mengejar setiap benang, mengetahui segalanya? Atau membiarkan sebagian tetap gelap, demi mereka yang masih hidup?
Naia tahu dia sedang menulis pertanyaannya sendiri. Dia tahu dia sedang menulis Rafi, dan Indri, dan ibunya, dan dirinya sendiri di kereta dari Bekasi. Tapi dia membungkusnya dalam fiksi, dan fiksi memberinya jarak untuk berkata jujur.
Yang berbeda dari karya-karya awalnya—cerpen romantis yang dia tulis sebagai remaja, penuh ikatan takdir dan cinta yang ditakdirkan—adalah ini lebih sastra. Lebih sunyi. Dia belajar dari ibunya, dari neneknya yang tidak pernah dia kenal kecuali lewat buku, bahwa keheningan di halaman bisa berbicara lebih keras dari kata-kata. Dia belajar menahan diri. Dia belajar membiarkan ruang kosong.
Suatu sore, dia menunjukkan tiga bab pertama pada ibunya.
Rasya membacanya di ruang kerja, dengan kacamata baca yang sekarang selalu dia butuhkan, dan Naia menunggu di luar pintu dengan jantung berdebar seperti menunggu putusan.
Ketika Rasya selesai, dia memanggil Naia masuk. Matanya basah.
"Ini bagus," katanya. "Ini sangat bagus. Lebih baik dari apa pun yang aku tulis di usiamu."
"Mama tidak harus bilang begitu."
"Aku tidak bilang begitu kalau tidak benar. Kau tahu aku tidak begitu." Rasya melepas kacamatanya. "Tapi aku ingin tanya satu hal. Dan aku tanya sebagai ibu, bukan sebagai penulis."
Naia menunggu.
"Apakah menulis ini melukaimu? Atau menyembuhkanmu?"
Itu pertanyaan yang sudah lama menghantui keluarga ini—Lara yang menulis untuk bertahan, Rasya yang menulis untuk memproses, dan sekarang Naia. Apakah mengubah hidup jadi cerita itu keselamatan atau kutukan?
Naia memikirkannya dengan serius, karena ibunya pantas mendapat jawaban yang serius.
"Dua-duanya," katanya akhirnya. "Tapi aku rasa—aku rasa aku belajar melakukannya tanpa berdarah. Nenek tidak punya pilihan itu. Mama belajarnya susah. Mungkin aku mewarisi pelajarannya, bukan lukanya."
Rasya menatap putrinya lama, dan sesuatu seperti kelegaan melintas di wajahnya. Mungkin pola bisa patah. Mungkin warisan bisa diteruskan tanpa luka yang sama.
"Teruskan," katanya. "Aku ingin membaca sisanya."