Indri jatuh di apartemen kecilnya pada suatu pagi di bulan Februari, dan setelah itu semua orang tahu, tanpa mengatakannya, bahwa perempuan tua itu tidak boleh dibiarkan memulihkan diri sendirian.
Pinggulnya tidak patah, syukurlah, tapi sesuatu di dalam dirinya seperti melepaskan kuncinya setelah kejatuhan itu. Dokter berbicara dengan bahasa yang sopan tentang "istirahat panjang" dan "pemulihan yang harus dijaga." Rasya mendengarkan, mengangguk, dan kemudian membuat keputusan yang sudah dia ketahui akan dia buat.
"Aku ingin dia di Bintaro," katanya pada Eka. "Bukan sendirian di apartemen itu. Aku ingin dia di rumah, sampai dia kuat lagi."
Maka mereka menyiapkan kamar tamu—kamar dengan jendela yang menghadap pohon mangga. Mereka memasang pegangan, mendatangkan perawat untuk siang hari, dan Rasya mengambil shift malam sendiri.
Merawat sahabat ibunya menjadi ritme baru hidupnya. Memberi makan, membantu pindah, membacakan buku ketika mata Indri terlalu lelah untuk membaca sendiri. Kadang Rasya membacakan buku-buku Lara—novel-novel ibunya, kata-kata yang ditulis perempuan yang sudah lama tiada—dan Indri akan menutup mata dan mendengarkan sahabatnya bicara dari kubur lewat suara putri Lara.
Suatu malam, ketika rumah sunyi dan hanya lampu meja yang menyala, Indri menggenggam tangan Rasya dengan jari-jari setipis ranting.
"Kau merawatku seperti Lara akan merawatku," katanya.
"Aku berusaha, Tante."
"Kau berhasil." Indri diam sejenak, mengumpulkan napas. "Kau tahu, aku menunggu sampai aku setua ini untuk memahami sesuatu. Tentang Lara dan Bram. Tentang pernikahan mereka."
Rasya menunggu, tidak berani bergerak.
"Selama bertahun-tahun aku berpikir cinta yang baik adalah cinta yang jujur sepenuhnya. Tidak ada rahasia. Tidak ada ruangan terkunci. Aku menghakimi Bram diam-diam karena keheningannya—aku habiskan tiga puluh tahun memburu apa yang dia sembunyikan." Mata tua itu berkilau. "Tapi sekarang aku tahu. Cinta bukan tentang kejujuran sempurna. Itu tentang pilihan berkelanjutan. Memilih, lagi dan lagi, setiap hari, untuk tetap. Bahkan di sekeliling apa yang tidak bisa kau ketahui. Itu yang Lara lakukan. Itu yang membuatnya nyata."
Rasya merasakan air mata jatuh, tapi dia tidak menghapusnya.
"Aku menulis itu di bukuku, Tante," katanya. "Hampir persis itu."
Indri tersenyum, dan untuk sesaat dia terlihat muda, terlihat seperti perempuan yang dulu memegang tangan Lara di ruang persalinan tempat Rasya lahir.
"Berarti kau sudah mengerti," katanya. "Maka aku bisa tenang."
Dia tidur tak lama setelah itu, napas pelan dan teratur. Rasya duduk di sampingnya sampai pagi, menjaga, seperti yang dilakukan ibunya dulu untuk hantu. Dan di luar jendela, pohon mangga berdiri diam dalam gelap, lebih tinggi dari rumah, lebih tua dari mereka semua.