Dika menelepon ibunya pada suatu Selasa malam, yang tidak biasa, karena Dika lebih suka mengirim pesan dan menelepon hanya ketika ada sesuatu yang besar.
"Ada apa?" tanya Rasya, langsung waspada dengan insting ibu yang tidak pernah benar-benar pensiun.
"Bukan hal buruk," kata Dika cepat. "Justru. Ma, aku bertunangan."
Rasya duduk. Dia di dapur Bintaro, dan dia duduk di kursi yang sama tempat dia duduk berpuluh tahun untuk berpuluh kabar.
"Namanya Siti," lanjut Dika, dan ada sesuatu di suaranya yang Rasya belum pernah dengar—lembut, tanpa pertahanan, anak pemberontaknya yang akhirnya menurunkan zirahnya. "Dia guru. SD. Kami ketemu di Bandung, sudah dua tahun. Aku—aku mau Mama ketemu dia. Aku mau dia jadi bagian dari semua ini."
Rasya merasakan air mata datang, dan kali ini dia membiarkannya—air mata yang baik, air mata yang sudah lama tidak punya banyak kesempatan.
"Ceritakan tentang dia," katanya.
Dan Dika bercerita. Tentang Siti yang sabar dengan anak-anak kelas dua yang belum bisa diam. Tentang Siti yang tidak peduli sama sekali pada nama keluarga Rasya, pada buku-buku, pada warisan sastra—yang mencintai Dika bukan sebagai cucu Lara atau anak penulis terkenal, tapi hanya sebagai Dika, lelaki yang membangun hidup sendiri jauh dari mitologi keluarga.
Itu yang membuat Rasya menangis paling banyak. Bahwa anaknya menemukan seseorang yang melihatnya bersih dari semua bobot yang dia warisi. Dika telah pergi ke Bandung dan membangun kehidupan yang ringan—bukan karena dia menolak keluarganya, tapi karena dia menemukan cara mencintainya dari jarak yang sehat.
"Dia tahu soal semuanya?" tanya Rasya. "Buku, Nenek Lara, semua kerumitan?"
"Dia tahu," kata Dika. "Aku ceritakan pelan-pelan. Dan kau tahu apa katanya?"
"Apa?"
"Dia bilang, 'Itu sejarah yang indah, tapi itu bukan kau. Kau boleh memilikinya tanpa menjadinya.'" Dika berhenti. "Aku pikir itu hal paling bijak yang pernah aku dengar, Ma. Dan dia bilang itu sambil menyetrika."
Rasya tertawa di sela tangisnya. "Aku suka dia. Aku belum ketemu dan aku sudah suka dia."
"Aku tahu kau akan suka."
Mereka bicara lama malam itu, lebih lama dari yang pernah Dika izinkan dalam bertahun-tahun. Dan ketika telepon ditutup, Rasya duduk sendiri di dapur Bintaro, memikirkan betapa keluarga ini tumbuh—bukan dengan menggandakan dirinya, tapi dengan mengembang ke luar, membawa masuk orang-orang yang memilih untuk dicintai.
Keluarga yang dipilih, pikirnya. Bukan hanya yang diwarisi.
Dia mengirim pesan ke grup keluarga: "Dika bertunangan. Namanya Siti. Dia guru. Aku sudah menangis, jangan tanya."
Balasan banjir masuk. Rumah, walau kosong malam itu, terasa penuh.