Indri menutup kantor kecilnya di Bekasi pada usia tujuh puluh delapan, tanpa upacara. Hanya satu kardus berisi buku catatan tua, sebuah lup yang sudah retak, dan foto Lara muda yang sudah pudar di sudut. Rasya membantunya mengangkut kardus itu ke mobil.
"Kali ini sungguhan?" tanya Rasya, setengah menggoda.
"Sungguhan." Indri menepuk pintu mobil. "Saya sudah terlalu tua untuk menguntit orang di parkiran. Lutut saya protes tiap kali jongkok."
Mereka tahu keduanya bahwa pensiun pertama Indri—sepuluh tahun lalu—hanyalah jeda sebelum obsesi terakhirnya menariknya kembali. Tapi yang ini terasa berbeda. Tidak ada berkas yang belum selesai memanggil-manggil di malam hari. Tidak ada nama yang diredaksi yang harus diburu.
Indri mulai menjadi sukarelawan di sebuah organisasi bantuan hukum perempuan di Jakarta Selatan. Dua hari seminggu, ia duduk di ruang tunggu sempit dengan AC yang batuk-batuk, mendengarkan perempuan-perempuan menceritakan kasus mereka: suami yang menghilang, warisan yang dirampas, dokumen yang ditahan. Ia tidak lagi memecahkan teka-teki untuk dirinya sendiri. Ia mengajari perempuan-perempuan itu cara membaca berkas, cara bertanya, cara tidak takut pada meja birokrasi.
"Saya pikir saya akan rindu mengejar bayangan," kata Indri suatu sore, di teras Bintaro, dengan teh yang sudah dingin di tangannya. "Ternyata yang saya rindukan cuma merasa berguna. Dan ini berguna."
Rasya memandanginya. Wajah sahabat ibunya kini dipenuhi garis-garis halus, tapi matanya masih tajam—hanya saja tajam dengan kelembutan sekarang, bukan kecurigaan.
"Ibu pasti suka melihat Tante begini," kata Rasya.
"Lara akan bilang saya sok suci." Indri tertawa, batuk sedikit. "Lalu dia akan diam-diam bangga."
Mereka tetap dekat, Rasya dan Indri. Tapi kedekatan itu sudah berubah bentuk. Dulu mereka diikat oleh misteri—oleh kebutuhan untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Lara, pada Bram, pada rumah ini. Sekarang mereka diikat oleh sesuatu yang lebih sederhana dan lebih tahan lama: kasih sayang yang sudah teruji, sejarah bersama yang tidak perlu lagi dijelaskan.
Indri datang ke Bintaro tiap Minggu. Mereka tidak selalu bicara. Kadang Indri hanya membaca koran di teras sementara Rasya menulis di dalam, dan kehadiran satu sama lain sudah cukup. Anak-anak Rasya memanggilnya Eyang Indri, dan ia membiarkannya, meski dulu ia akan mendengus pada gelar semacam itu.
"Saya menghabiskan separuh hidup saya mencari kebenaran," kata Indri suatu kali. "Dan kebenaran terbesar yang saya temukan adalah ini—" ia menunjuk teras, rumah, sore yang biasa saja. "Bahwa kebanyakan hari, tidak ada misteri. Cuma orang-orang yang memilih untuk tetap saling menemani."
Rasya menyimpan kalimat itu. Ia tahu, suatu hari, kalimat itu akan masuk ke dalam sebuah buku. Tapi untuk sekarang, ia membiarkannya menjadi milik mereka berdua saja, di teras, di sore yang tidak menuntut apa-apa.