Surat penerimaan itu datang lewat email, di antara tagihan listrik dan promosi toko buku. Naia membacanya tiga kali sebelum percaya. Sebuah hibah penulis-in-residence, setahun penuh di Berlin, dengan apartemen kecil di distrik Kreuzberg dan tunjangan yang cukup untuk hidup sederhana sambil menulis.
"Saya mau pergi," kata Naia di meja makan, suaranya bergetar antara takut dan girang. "Setahun. Berlin."
Rasya meletakkan garpunya. Ia merasakan sesuatu mengencang di dadanya—reaksi seorang ibu yang sudah kehilangan terlalu banyak orang pada jarak dan waktu. Tapi ia menelan reaksi itu. Ia mengenalinya sebagai milik generasi lain, milik Lara yang menjaga ketat karena dunia memang berbahaya baginya.
"Kapan kamu berangkat?" tanya Rasya, dan ia bangga suaranya terdengar tenang.
Naia, anak bungsu yang menulis seperti neneknya, butuh jarak. Rasya tahu itu. Selama ini Naia tumbuh di dalam bayang-bayang cerita keluarga—novel Lara, biografi Bram, investigasi Indri yang menjadi legenda keluarga. Naia menulis di rumah yang penuh hantu cerita, dan tiap kalimatnya selalu diukur terhadap kalimat-kalimat yang sudah ditulis sebelumnya.
Di Berlin, untuk pertama kalinya, Naia akan menjadi sekadar dirinya. Bukan cucu Lara. Bukan penjaga warisan. Hanya seorang perempuan muda dengan laptop di kafe asing, menulis dalam bahasa yang membebaskannya karena tidak ada yang mengenalnya.
"Saya akan pulang liburan," kata Naia cepat, seakan menebak ketakutan ibunya. "Natal. Mungkin lebaran. Saya janji."
"Kamu tidak perlu janji apa-apa." Rasya meraih tangan putrinya. "Pergi. Tulis. Jadilah dirimu sendiri di sana, jauh dari semua ini."
Malam sebelum keberangkatan, Rasya mengetuk pintu kamar Naia. Putrinya sedang mengepak, kopor terbuka di lantai, tumpukan buku catatan kosong di atas kasur.
"Ini," kata Rasya, menyerahkan sebuah pena. Pena tua, perak yang sudah kusam. "Punya Eyang Lara. Dia menulis seluruh novel pertamanya dengan ini. Saya simpan bertahun-tahun, tidak tahu untuk apa."
Naia memegang pena itu seakan benda rapuh. "Saya tidak yakin saya mau menulis tentang keluarga lagi, Bu. Itu sebabnya saya pergi."
"Kalau begitu jangan." Rasya tersenyum. "Tulis apa pun yang kamu mau. Pena itu tidak punya syarat. Itu cuma pena."
Naia memeluk ibunya lama sekali. Di bandara keesokan paginya, Rasya menonton putrinya menghilang di balik pintu keberangkatan, dan ia tidak menangis sampai mobil. Lalu ia menangis sebentar—bukan karena kehilangan, melainkan karena lega. Karena untuk pertama kali dalam tiga generasi, seorang perempuan di keluarga ini pergi bukan untuk lari dari bahaya, melainkan untuk menemukan dirinya. Dan ia diizinkan pulang kapan pun ia mau.