Tidak ada undangan. Tidak ada gedung. Tidak ada katering. Hanya pengumuman singkat di grup keluarga: "Minggu sore di Bintaro. Datang yang bisa."
Setelah semuanya—setelah investigasi, setelah rahasia, setelah bertahun-tahun hidup di bawah berat warisan dua keluarga—Eka dan Rasya memutuskan memperbarui janji pernikahan mereka. Bukan karena pernikahan mereka goyah. Justru sebaliknya. Karena mereka telah bertahan, dan bertahan layak diakui.
"Kenapa sekarang?" tanya Eka beberapa hari sebelumnya, sambil memasang lampu taman di halaman belakang. Ia insinyur sipil; ia tidak pernah nyaman dengan hal-hal yang tidak punya fungsi jelas.
"Karena kita sudah selamat," jawab Rasya sederhana. "Dari semuanya. Dan saya ingin mengatakannya keras-keras, sekali, supaya anak-anak dengar."
Eka berhenti memasang lampu. Ia memandang istrinya—perempuan yang pernah ia khawatirkan akan tenggelam dalam obsesi Indri, dalam hantu-hantu orangtuanya, dalam novel yang tidak pernah selesai memprosesnya. Dan kini berdiri di hadapannya, tenang, dengan perak mulai menghias rambutnya.
"Kamu tahu saya tidak pernah percaya semua mitologi keluarga itu," kata Eka pelan. "Ramalan, takdir, kutukan yang diwariskan. Saya cuma percaya pada beton, beban, dan struktur yang menahan."
"Saya tahu." Rasya tersenyum. "Itu sebabnya saya menikahi kamu. Saya butuh seseorang yang menimbang muatan sebelum percaya rumah akan runtuh."
Minggu sore itu, mereka berdiri di halaman belakang Bintaro, di bawah pohon mangga yang ditanam Lara puluhan tahun lalu. Ara memegang ponsel, video-call dengan Naia di Berlin yang menonton dengan mata berkaca-kaca lewat layar. Dika datang dari Bandung bersama Siti. Indri duduk di kursi terdepan, mengenakan kebaya yang sudah lama tidak ia pakai.
Tidak ada penghulu, tidak ada saksi resmi. Hanya Eka dan Rasya saling berhadapan.
"Saya tidak akan berpuisi," kata Eka, dan semua tertawa karena memang itu sangat Eka. "Saya cuma mau bilang: hampir tiga puluh tahun lalu saya menikahi seorang perempuan yang membawa seluruh rumah berhantu di pundaknya. Saya tidak tahu apa yang saya tandatangani." Ia berhenti. Suaranya pecah sedikit. "Tapi saya tidak akan menukarnya dengan apa pun. Kita menahan beban ini bersama, dan struktur ini—kita—masih berdiri."
Rasya menggenggam kedua tangannya. "Saya mewarisi banyak hantu," katanya. "Tapi kamu, kamu saya pilih. Tiap hari, saya memilihmu. Itu satu-satunya bagian dari hidup saya yang bukan warisan. Yang murni keputusan saya sendiri."
Mereka tidak berciuman dengan dramatis. Eka hanya menarik Rasya ke dalam pelukan, dan dari layar ponsel, Naia berseru dari Berlin. Pohon mangga Lara bergoyang pelan, dan untuk sesaat, rumah itu terasa bukan sebagai beban yang ditahan, melainkan sebagai tempat di mana cinta diperbarui—tidak sempurna, tapi sungguh-sungguh dipilih.