Pesan itu datang lewat seseorang yang sudah lama tidak Rasya pikirkan—kontak lama Indri, mantan kolega di dunia abu-abu yang dulu menjadi tempat Bram bekerja. Sebuah nomor asing, sebuah pesan yang hati-hati dirancang agar tidak mencurigakan.
"Ada orang yang ingin bicara dengan Anda. Soal ayah Anda. Bukan urusan resmi. Anda boleh menolak."
Rasya menatap layar ponselnya lama. Sepuluh tahun telah berlalu sejak kematian Lara. Dua puluh tahun sejak Bram pergi. Ia pikir buku itu sudah ditutup—biografi Bram sudah terbit, investigasi terakhir Indri sudah menemukan ujungnya, atau setidaknya menemukan tempat untuk berhenti.
Tapi sekarang ini.
Orang itu, kata pesan berikutnya, adalah arsiparis pensiun yang dulu bekerja di Badan Intelijen Negara. Bukan agen lapangan. Bukan handler. Hanya seorang yang menjaga berkas, mengarsipkan, menyimpan kertas-kertas yang mati bersama operasi yang sudah lama selesai. Sekarang ia tua, dan—seperti banyak orang tua—ingin menyelesaikan sesuatu sebelum waktunya habis.
"Dia bilang ada hal tentang operasi terakhir Bram," tulis kontak itu. "Hal yang tidak pernah Anda tahu. Dia merasa Anda berhak tahu, sekarang setelah semua orang yang bisa terluka olehnya sudah tiada."
Rasya duduk di ruang kerja Bintaro, di kursi yang dulu milik ayahnya. Di sekelilingnya, rak-rak buku, foto-foto, biografi Bram yang sudah ia tulis dengan susah payah—mencoba merekonsiliasi ayah yang ia kenal dengan agen yang tidak pernah ia kenal.
Apakah ia ingin membuka semua ini lagi?
Bagian darinya, bagian penulis yang selalu lapar pada cerita, langsung tahu jawabannya. Tentu. Selalu ingin lebih, selalu ingin tahu apa kalimat berikutnya. Tapi ada bagian lain—bagian ibu, bagian perempuan yang telah belajar betapa mahalnya kebenaran—yang ragu.
Eka, ketika ia menceritakannya malam itu, tidak terkejut. "Kamu sudah memutuskan, kan?" katanya, tidak menuduh, hanya membaca istrinya.
"Saya belum."
"Kamu sudah." Eka menghela napas. "Saya cuma minta satu hal. Apa pun yang orang ini katakan—jangan biarkan itu menghapus apa yang sudah kamu damaikan. Kamu butuh bertahun-tahun untuk berdamai dengan ayahmu. Jangan biarkan satu berkas tua merobeknya lagi."
Rasya tidak menjawab. Ia memandang foto Bram di meja—ayahnya, tersenyum kaku di sebuah pesta keluarga, dengan rahasia di belakang matanya yang selalu ia bawa ke dalam diam.
Apa beban maskulin yang ayahnya bawa ke dalam keheningan? Apa yang mati bersamanya—atau tidak?
Ia teringat kalimat yang pernah ditulis Lara dalam jurnalnya: "Lelaki di keluarga ini menyimpan rahasia seperti orang lain menyimpan luka—dengan keyakinan keliru bahwa diam melindungi orang yang mereka cintai."
Rasya mengambil ponselnya. Jarinya melayang di atas layar. Lalu, pelan, ia mengetik balasan kepada kontak lama itu:
"Saya akan bertemu dengannya. Atur waktunya."
Ia menekan kirim sebelum bagian rasionalnya bisa menariknya kembali. Di luar, malam Bintaro tenang. Tapi di dalam dadanya, sesuatu yang sudah lama tidur kembali membuka mata.