Rasya membawa pertanyaannya kepada Indri, karena kepada siapa lagi ia akan membawanya. Mereka duduk di teras Bintaro, dua cangkir teh di antara mereka, dan Rasya menceritakan semuanya—pesan dari kontak lama, arsiparis pensiun, tawaran untuk membuka kembali rahasia terakhir Bram.
Indri mendengarkan tanpa menyela. Itu kebiasaan detektif yang tidak pernah hilang darinya, bahkan setelah pensiun: membiarkan orang lain bicara sampai habis, karena yang penting sering muncul di kalimat terakhir, ketika penjaga sudah lelah.
Ketika Rasya selesai, Indri tidak langsung menjawab. Ia menatap halaman, ke arah pohon mangga Lara, lama sekali.
"Dulu," kata Indri akhirnya, "saya akan menyuruh Anda lari ke kafe itu sekarang juga. Saya akan mengantar Anda. Saya akan menyiapkan tiga pertanyaan dan satu perekam tersembunyi." Ia tersenyum tipis. "Saya menghabiskan tiga puluh tahun percaya bahwa tahu selalu lebih baik daripada tidak tahu. Bahwa kebenaran punya nilai mutlak, lebih tinggi dari kedamaian, lebih tinggi dari apa pun."
"Dan sekarang?"
Indri memutar cangkirnya pelan. "Sekarang saya tua, dan saya sudah melihat apa yang kebenaran lakukan pada orang. Saya melihat apa yang investigasi saya sendiri lakukan pada Anda—berapa tahun yang Anda habiskan, berapa malam tanpa tidur. Saya mencari penutupan untuk Lara, dan saya hampir menyeret Anda ke dalam lubang yang sama."
Rasya teringat tahun-tahun itu—obsesi yang nyaris menelan dirinya, kekhawatiran Eka, malam-malam ketika ia kehilangan diri di antara berkas-berkas.
"Saya sudah belajar," lanjut Indri, "perbedaan antara perlu tahu dan memilih untuk tahu. Itu dua hal yang sangat berbeda. Perlu tahu—itu ketika ketidaktahuan membahayakan Anda, atau orang lain. Itu ketika rahasia masih hidup dan masih bisa melukai. Memilih untuk tahu—itu ketika rahasia sudah mati, sudah tidak mengancam siapa-siapa, dan satu-satunya yang Anda layani adalah rasa ingin tahu Anda sendiri."
Ia menoleh, menatap Rasya langsung. "Rahasia ayah Anda. Semua orang yang bisa terluka olehnya sudah tiada. Itu bukan lagi perlu tahu, Rasya. Itu memilih untuk tahu. Dan tidak apa-apa untuk memilih—tapi Anda harus jujur pada diri sendiri tentang mana yang Anda lakukan. Jangan bersembunyi di balik kata 'saya harus.' Anda tidak harus. Anda boleh."
Rasya menelan. "Lalu menurut Tante, saya harus bagaimana?"
"Tidak." Indri menggeleng. "Itu pelajaran kedua yang saya butuhkan tujuh puluh delapan tahun untuk pelajari. Saya tidak akan memutuskan untuk Anda. Dulu saya akan. Sekarang tidak." Ia menggenggam tangan Rasya, tangan tua yang masih kuat. "Anda harus memutuskan mana yang Anda lakukan. Perlu, atau memilih. Dan apa pun keputusannya, Anda yang harus hidup dengannya, bukan saya."
Mereka duduk dalam diam setelah itu. Teh mendingin. Sore turun perlahan ke atas Bintaro. Dan Rasya menyadari bahwa Indri baru saja memberinya hadiah yang lebih berharga dari jawaban mana pun: izin untuk memilih, dan kejujuran untuk mengakui pilihan itu sebagai miliknya.