Kafe itu terletak di sudut tenang Menteng, tempat yang dipilih justru karena ketidakpentingannya—tidak ada yang akan mencari rahasia di kedai kopi dengan kursi rotan dan tanaman dalam pot. Rasya datang lebih awal, memesan kopi yang tidak ia minum, dan menunggu.
Arsiparis itu masuk tepat waktu. Seorang lelaki kurus di awal tujuh puluhan, dengan kemeja yang disetrika rapi dan tas kulit usang. Tidak ada yang dramatis tentangnya. Ia terlihat seperti pensiunan guru, atau akuntan, atau siapa saja yang menghabiskan hidup di antara kertas.
"Ibu Rasya," katanya, duduk. "Terima kasih sudah mau datang. Saya tahu ini... tidak biasa."
"Bapak bekerja dengan ayah saya?"
"Tidak langsung. Saya menjaga berkas. Bapak Anda adalah salah satu nama yang melewati meja saya, bertahun-tahun. Tapi nama itu tinggal di kepala saya, karena ada sesuatu yang tidak pernah saya lupakan."
Ia membuka tasnya, tapi tidak mengeluarkan apa-apa. Hanya merogoh, lalu menutupnya kembali. "Saya tidak bawa dokumen. Itu masih disegel, dan akan tetap begitu sampai saya mati dan setelahnya. Saya hanya bawa apa yang ada di sini." Ia menyentuh keningnya.
Rasya menunggu. Ia telah belajar dari Indri: biarkan mereka bicara.
"Operasi terakhir ayah Anda," kata arsiparis pelan, "yang ia kerjakan menjelang akhir hidupnya. Anda tahu itu ada, tapi tidak pernah tahu isinya. Benar?"
Rasya mengangguk.
"Itu bukan operasi melawan musuh negara. Itu bukan spionase dalam arti yang Anda bayangkan." Lelaki itu menghela napas. "Itu operasi untuk melindungi seseorang. Seorang saksi. Dalam sebuah kasus antikorupsi besar—salah satu yang terbesar di zamannya, melibatkan nama-nama yang masih berkuasa bertahun-tahun setelahnya."
Sesuatu mengencang di tenggorokan Rasya. "Saksi?"
"Seorang perempuan. Pegawai negeri rendahan yang melihat sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat, dan memutuskan untuk bicara. Setelah ia bicara, ia menjadi target. Orang-orang yang ia bongkar punya tangan panjang." Arsiparis menatapnya. "Ayah Anda diberi tugas untuk membuatnya menghilang. Bukan dalam arti buruk. Dalam arti melindungi. Identitas baru, lokasi baru, jaring pengaman yang tidak terlihat. Ayah Anda menjaga perempuan itu tetap hidup, dari bayang-bayang, selama bertahun-tahun, bahkan setelah resminya operasi itu ditutup."
"Apakah... berhasil?"
Lelaki itu tersenyum untuk pertama kalinya, dan senyumnya mengubah seluruh wajahnya. "Saksi itu bertahan. Ia hidup. Ia masih hidup sekarang, perempuan tua di kota kecil, dengan cucu-cucu yang tidak pernah tahu siapa neneknya dulu. Kasus itu akhirnya menjatuhkan beberapa orang besar, sebagian karena kesaksiannya tetap aman, tetap bisa diverifikasi, tetap hidup—karena ayah Anda menjaganya."
Rasya merasa matanya panas. Selama bertahun-tahun ia membayangkan ayahnya sebagai roda dalam mesin yang dingin, terkendali, kompromistis. Pelayan sistem yang menukar nuraninya demi kelangsungan.
"Ayah Anda membuat perbedaan," kata arsiparis lembut, "di luar keluarganya sendiri. Ada perempuan yang masih bernapas hari ini karena Bram memilih untuk menjaganya. Saya pikir Anda berhak tahu itu. Saya pikir... ayah seperti itu tidak seharusnya mati hanya sebagai misteri."
Mereka duduk lama setelahnya. Kopi Rasya tetap tak tersentuh. Tapi untuk pertama kalinya, kekosongan di mana ayahnya pernah berdiri mulai terisi—bukan dengan jawaban yang dingin, melainkan dengan sesuatu yang menyerupai kehangatan.