Idenya datang dari Ara, yang selama bertahun-tahun diam-diam menjadi kurator memori keluarga—menyimpan foto, mengarsipkan jurnal Lara, menjaga manuskrip Bram dalam kotak bebas asam.
"Bagaimana kalau kita buka rumah ini?" usulnya pada satu makan malam keluarga. "Bukan terus-menerus. Satu hari sebulan. Untuk peneliti sastra, mahasiswa, siapa pun yang tertarik pada karya Eyang Lara, atau sejarah keluarga ini."
Awalnya Rasya ragu. Mengubah Bintaro menjadi tontonan terasa seperti pengkhianatan—seakan menjadikan rumah, dengan semua hantu dan rahasianya, sebagai pajangan.
"Bukan museum," Ara cepat menjelaskan, membaca keraguan ibunya. "Saya benci museum. Tempat di mana hal-hal mati dipajang di balik kaca. Saya pikir sesuatu yang berbeda. Sebuah ruang hidup yang masih terlibat dengan sejarahnya sendiri. Kita masih tinggal di sini. Kita masih menulis, masih berdebat, masih makan malam di meja itu. Orang datang bukan untuk melihat benda mati, tapi untuk masuk ke dalam cerita yang masih berlangsung."
Frasa itu—ruang hidup yang masih terlibat dengan sejarahnya sendiri—yang akhirnya meyakinkan Rasya. Karena itu, ia sadar, persis seperti apa yang selalu ia harapkan dari rumah ini. Bukan kuburan. Bukan kuil. Tempat di mana masa lalu dan masa kini duduk di meja yang sama.
Mereka mengabari beberapa universitas, beberapa komunitas sastra, lembaga kajian feminis yang dulu pernah membahas novel Lara. Naia, yang novelnya kini sedang dalam proses penerbitan, menulis pengumuman yang sederhana dan tulus.
Hari pertama, Rasya berdiri di teras dan menonton orang-orang berdatangan. Empat puluh orang. Mahasiswa dengan ransel, dosen tua dengan buku catatan, perempuan-perempuan muda yang membawa novel Lara dengan halaman-halaman terlipat dan dicoret. Seorang peneliti dari Yogyakarta yang menempuh perjalanan jauh hanya untuk melihat meja tempat Lara menulis.
Ara memandu mereka—bukan dengan naskah hafalan, melainkan dengan cerita. Ini ruang kerja Eyang Lara. Ini pohon mangga yang ia tanam. Ini meja makan tempat tiga generasi bertengkar dan berdamai. Ia tidak menyembunyikan luka-luka keluarga; ia juga menceritakan rahasia Bram, trauma Lara, tahun-tahun yang sulit—karena, katanya, sebuah rumah yang jujur lebih hidup daripada rumah yang sempurna.
Rasya menonton dari sudut. Ia melihat seorang perempuan muda berhenti di depan foto Lara, menyentuh bingkainya dengan lembut, dan menangis. Ia melihat seorang mahasiswa mencatat dengan tergesa, matanya berbinar. Ia melihat orang-orang tergerak—bukan oleh kemegahan, melainkan oleh kejujuran dari sebuah keluarga yang membuka pintunya, hantu dan semuanya.
Di akhir hari, ketika pengunjung terakhir pulang, Ara duduk di samping ibunya, lelah dan bahagia.
"Bagaimana?" tanyanya.
"Eyang Lara akan suka ini," kata Rasya. "Ia menghabiskan hidupnya merasa sendirian dengan ceritanya. Dan sekarang lihat—empat puluh orang datang ke rumahnya, tergerak oleh ceritanya. Ia tidak pernah sendirian. Ia hanya tidak tahu."
Naia, yang ikut menyimak, berkata pelan, "Itu yang dilakukan cerita. Membuat orang yang sudah pergi tetap ditemani."
Dan rumah Bintaro, untuk satu hari penuh, menjadi tepat seperti yang Ara janjikan: bukan tempat untuk hal-hal mati, melainkan ruang yang masih bernapas, masih bercerita, masih hidup.