Rasya, di pertengahan lima puluhan, menemukan dirinya semakin sering duduk di teras Bintaro tanpa melakukan apa-apa. Bukan menulis. Bukan menunggu. Hanya duduk, dengan teh yang mendingin, menonton sore turun ke atas halaman.
Rambutnya kini lebih banyak perak daripada hitam. Tangannya, ketika ia memandangnya, mulai menyerupai tangan ibunya, dan kemudian tangan neneknya—garis-garis yang sama, urat-urat yang sama. Tubuh adalah warisan juga, pikirnya. Kita membawa nenek moyang kita di kulit kita sendiri.
Ia menghitung, kadang, apa yang telah ia lakukan.
Ia telah memenuhi warisan ibunya—sekuel novel Lara terbit, dibaca, dicintai; cerita yang belum selesai akhirnya selesai, atau setidaknya menemukan tempat untuk berhenti. Ia telah menyelidiki rahasia ayahnya, dan—lewat seorang arsiparis tua di kafe Menteng—akhirnya memahaminya, memaafkannya, mencintainya tanpa syarat. Ia telah membesarkan tiga anak menjadi dewasa: Ara yang menjaga, Dika yang memilih jalan sendiri, Naia yang menulis ulang segalanya menjadi sesuatu yang baru. Ia telah menjaga pernikahannya, memperbaruinya, memilih Eka tiap hari selama puluhan tahun.
Dan rumah masih berdiri.
Bintaro, dengan dinding-dinding yang menyimpan tiga generasi, dengan pohon mangga yang masih berbuah, dengan teras tempat begitu banyak percakapan penting terjadi. Rumah yang dulu terasa seperti beban—penjara, sangkar, tempat hantu berkumpul—kini terasa seperti sesuatu yang lebih lembut. Bukan beban. Hanya rumah.
Apakah ia damai? Rasya merenung tentang kata itu, dan memutuskan tidak. Damai terlalu rapi, terlalu selesai. Ia tidak damai. Masih ada hari-hari ketika kerinduan pada ibunya menghantamnya tanpa peringatan. Masih ada malam ketika ia bertanya-tanya tentang rahasia yang tetap disegel, tentang versi-versi cerita yang tidak akan pernah ia ketahui. Masih ada celah antara narasi yang ia tulis dan kebenaran yang tidak bisa ditangkap kata-kata.
Tapi ia telah sampai pada sesuatu yang lebih baik dari damai. Penerimaan.
"Ini yang saya diberikan untuk dikerjakan," kata Rasya pelan, kepada sore, kepada rumah, kepada tidak ada siapa-siapa. "Sebuah rumah penuh hantu. Sebuah ibu yang rumit. Seorang ayah yang menyimpan rahasia. Cerita yang belum selesai. Trauma yang diwariskan turun-temurun." Ia menghela napas. "Dan saya melakukan yang terbaik dengan semuanya. Saya tidak menyempurnakannya. Tidak ada yang sempurna. Tapi saya mengerjakannya, sejujur yang saya bisa. Dan itu cukup."
Eka keluar ke teras, membawa dua cangkir teh baru karena yang lama sudah dingin. Ia tidak bertanya apa yang Rasya pikirkan. Setelah puluhan tahun, ia tahu kapan istrinya sedang berdamai dengan masa lalu. Ia hanya duduk di sampingnya, menyerahkan cangkir hangat, dan ikut menonton sore.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanyanya akhirnya.
"Apa yang tersisa," jawab Rasya. "Setelah semuanya. Apa yang benar-benar tersisa."
"Dan apa jawabannya?"
Rasya meraih tangan suaminya. Di kejauhan, ia bisa mendengar tetangga menyalakan radio, anak-anak bermain di gang, kehidupan biasa Jakarta yang terus berjalan. "Ini," katanya. "Yang tersisa adalah ini. Sore yang biasa. Teh yang hangat. Kamu di samping saya. Rumah yang masih berdiri. Dan anak-anak kita, di luar sana, menulis cerita mereka sendiri."
Eka menggenggam tangannya. Mereka menonton matahari turun di balik pohon mangga Lara, dan tidak ada yang perlu dikatakan lagi.