Hening, baik aku dan Mas Rama tak satu pun ada yang bergeming. Dingin pun kini mulai hinggap, kuat menyergap, bahkan seperti sudah tak akan lagi ada harap-harap kalimat yang biasanya hangat akan terucap, selain kata ‘kecewa’-ku kepadanya.
“Sejak kapan?”
Akhinya kuberanikan diri untuk bertanya kepadanya.
“Pas kita berantem dan Mas yang pergi sore itu...”
Balasnya dengan tanpa menatap kearahku, wajahnya yang sembab sehabis menangis itu terus saja di tundukannya sedari beberapa saat yang lalu.
“Udah sejauh mana?”
“SAYANG!”
Ia langsung memanggilku dengan suaranya yang di tinggikanya, sampai keras dan jelas sekali terdengarnya di telingaku ini.
“Kamu gak percaya sama aku?”
“Gimana aku mau percaya sama orang yang selama ini udah bohongin aku, sembunyiin semua ini sama aku Mas!