Satu jam lamanya Shinta menangis dalam erat pelukan Galih. Sampai pakaian putih yang di kenakannya jadi basah seperti habis terkena siraman air, karena kesedihan Shinta yang jelas tengah begitu dalam di rasakannya.
“Maaf, aku jadi bikin kamu-“
“Suttt....”
“Udah gak papa, kamu capek kan?”
Galih sudah tak ingin mempedulikan yang lainnya, ia hanya ingin membuat Shinta merasa lebih baik sekarang. Dan ia yang tahu betul betapa lemahnya kondisi Shinta yang sedang sakit, yang kemudian juga harus di tambah dengan luka batin yang terlihat begitu menyiksa jiwanya, jalas Galih tak bisa membiarkannya begitu saja.
“Kita naik ya...”
Tanpa menungu ‘iya’ dari Shinta atau banyak berkata lagi, dengan tangan kokohnya langsung Galih mengangkat tubuh Shinta untuk di bawabta kembali ke ranjang tempat