Ada pepatah di dunia tempat Reza berasal: tim terbaik dibuat dari orang-orang terbaik, dan orang-orang terbaik selalu yang paling berbahaya. Bukan karena mereka jahat, tapi karena keahlian sejati selalu datang bersama luka, dan luka membuat orang sulit diramalkan. Reza tahu ia tidak bisa membobol Gunung sendirian. Ia butuh tangan untuk listrik, tangan untuk logam, dan tangan untuk roda kemudi. Dan ketiga tangan itu adalah orang-orang yang pernah ia sumpahi tidak akan ia hubungi lagi.
Ia mulai dari yang paling sulit dimaafkan.
Nina tinggal di sebuah apartemen kecil di lantai dua belas, di balik tiga pintu berkunci dan satu kamera pengintai yang ia pasang sendiri. Reza harus menatap kamera itu selama satu menit penuh sebelum gerendel terbuka. Perempuan itu berumur dua puluh sembilan, lebih muda dari yang lain, dengan mata yang selalu seperti sedang menghitung sesuatu. Di sekelilingnya, kabel dan layar menumpuk seperti sarang. Udara berbau kopi dan papan sirkuit panas.
"Kamu masih hidup," kata Nina, tanpa menoleh dari layar. "Kupikir kamu sudah jadi montir baik-baik yang mati membosankan di bengkel."
"Aku memang jadi montir."
"Lalu kenapa di sini?" Kini ia menoleh. "Orang seperti kita tidak pernah datang ke pintu orang lama buat basa-basi, Za. Kamu butuh sesuatu. Dan setelah apa yang terjadi di pekerjaan Surabaya, kamu pasti sangat butuh kalau berani datang ke sini."
Surabaya. Reza menelan ludah. Pekerjaan yang gagal lima tahun lalu, yang membuatnya masuk penjara dan membuat Nina nyaris tertangkap karena keteledorannya sendiri menutup data. "Aku tidak menyebut namamu ke polisi. Bahkan saat mereka memukulku."
"Aku tahu," kata Nina pelan. "Itu sebabnya aku membuka pintu." Ia menyandar di kursi. "Apa pekerjaannya?"
"Gunung."
Nina tertawa, satu kali, keras. Lalu tawa itu mati saat ia melihat wajah Reza tidak ikut tertawa. "Kamu serius. Sentral Garda. Brankas tiga lapis itu. Za, itu bukan pekerjaan. Itu cara bunuh diri yang dibayar mahal."
"Kunci elektronik berganti tiap dua belas jam," kata Reza. "Aku tidak datang ke siapa-siapa selain kamu untuk itu."
Sesuatu berkilat di mata Nina. Bukan ketakutan. Reza mengenalinya karena ia pernah punya kilat yang sama: rasa lapar pada sesuatu yang mustahil. Nina pernah meretas bank, pernah masuk ke sistem yang katanya tidak bisa ditembus, tapi kunci yang berganti tiap dua belas jam tanpa terhubung ke internet adalah teka-teki yang berbeda. Teka-teki yang membuatnya tidak bisa tidur.
"Berapa?" tanya Nina.
"Cukup untuk kamu berhenti."
"Tidak ada yang cukup untuk aku berhenti." Tapi ia sudah menarik papan ketiknya lebih dekat. "Ceritakan semuanya."
Orang kedua lebih mudah, dan lebih menyakitkan. Pak Gun. Ahli brankas tertua yang masih hidup yang Reza kenal, enam puluh dua tahun, tangan yang sudah membuka lebih banyak baja daripada usia Reza dalam hari. Reza menemukannya di sebuah panti, duduk di kursi roda, memandang taman.
"Mereka bilang jantungku tidak kuat lagi," kata Pak Gun, sebelum Reza sempat bicara. "Jadi kalau kamu datang untuk mengajakku kerja, jawabannya tidak. Aku sudah selesai, Nak."
"Aku tidak datang untuk tanganmu, Pak," kata Reza, duduk di sampingnya. "Aku datang untuk kepalamu. Aku butuh kamu mengajariku sesuatu. Gunung."
Pak Gun terdiam lama. Lalu, untuk pertama kalinya, matanya yang tua menyala. "Diebold tua dengan inti komposit. Aku pernah memeriksanya, tahun sembilan delapan, sebelum mereka memasangnya. Aku menolak ikut memasang, karena aku tahu siapa yang akan menyimpan barang di sana." Ia menatap Reza. "Brankas itu punya cacat, Nak. Semua brankas punya cacat. Tapi cacatnya bukan di logam. Cacatnya di orang yang menjaganya."
"Bantu aku menemukannya."
Pak Gun memegang tangan Reza, genggaman yang masih kuat meski tubuhnya rapuh. "Dengan satu syarat. Aku ikut sampai pintu garasi. Aku tidak mau mati di panti ini, memandang taman yang sama setiap hari. Kalau aku harus mati, biarkan aku mati di tengah pekerjaan, dengan tangan kotor oli, bukan kotor bubur."
Orang ketiga Reza temukan di sebuah bengkel mobil balap liar di pinggir kota. Joko, tiga puluh lima tahun, sopir yang konon bisa membuat mobil melakukan hal yang tidak diizinkan fisika. Reza menemukannya sedang berbaring di bawah sebuah sedan, hanya kaki yang terlihat.
"Pergi," kata suara dari bawah mobil. "Aku tahu langkah kakimu, Za. Sepuluh tahun aku tidak dengar, dan aku masih ingat. Itu artinya kamu mau aku melakukan sesuatu yang bodoh."
"Joko."
"Aku punya anak sekarang." Kepala Joko muncul dari bawah mobil, wajah penuh gemuk mesin. "Namanya Bima. Dua tahun. Aku tidak mau dia tumbuh tanpa bapak."
"Itu sebabnya kamu harus dengar dulu," kata Reza. "Kalau berhasil, kamu tidak perlu menyentuh setir liar lagi seumur hidup. Bima besar dengan bapak yang ada di rumah, bukan bapak yang balapan tiap malam buat susu."
Joko menyeka tangannya, menatap Reza lama. Itulah masalah dengan menawarkan jalan keluar kepada orang yang terjebak: mereka selalu mendengarkan, meski seharusnya tidak.
Empat orang. Pencuri yang ingin berhenti, peretas yang tidak bisa berhenti, ahli brankas yang sekarat, dan sopir yang punya terlalu banyak alasan untuk hidup. Reza menatap mereka satu per satu di pertemuan pertama, di bengkelnya yang remang, dan berpikir: ini bukan tim. Ini empat luka yang kebetulan saling membutuhkan. Dan luka, kalau ditekan cukup keras, selalu pecah.