Reza percaya bahwa kamu tidak benar-benar mengenal seseorang sampai kamu melihat mereka melakukan satu hal yang paling mereka kuasai. Maka di minggu pertama, ia membiarkan setiap anggota timnya menunjukkan dirinya, bukan dengan kata, tapi dengan tangan.
Nina yang pertama. Ia membawa laptopnya ke bengkel dan, dalam waktu yang dibutuhkan Reza menyeduh kopi, ia masuk ke sistem kamera lalu lintas seluruh kota. "Kalau aku mau," katanya tenang, "aku bisa membuat satu mobil hilang dari semua kamera di kota ini selama tiga puluh menit. Tidak terhapus, cuma tidak terlihat. Polisi akan menatap rekaman dan tidak melihat apa pun yang janggal." Ia menutup laptop. "Tapi Gunung beda. Sistemnya tidak terhubung ke luar sama sekali. Air gap, kami menyebutnya. Aku tidak bisa meretas sesuatu yang tidak bisa kusentuh dari jauh. Aku harus berada di dalam, mencolok langsung ke kotaknya. Itu artinya aku harus masuk gedung. Itu artinya aku tidak bisa cuma jadi suara di telinga kalian. Aku harus ikut basah."
Reza mencatat itu. Air gap. Masalah yang Hendra tidak sebutkan. Setiap hari ada satu masalah baru yang tidak disebutkan.
Pak Gun menunjukkan dirinya dengan cara yang berbeda. Ia tidak bisa lagi berjongkok di depan brankas, jadi ia mengajar. Reza membawa sebuah brankas latihan ke bengkel, dan Pak Gun, dari kursi rodanya, memandu telinga dan jari Reza. "Brankas tidak membuka untuk tangan yang terburu-buru, Nak. Roda itu seperti perempuan tua yang tidak percaya orang baru. Kamu harus sabar. Dengar. Setiap gerigi punya suaranya sendiri. Yang ketiga selalu berbohong, suaranya nyaris sama dengan yang benar tapi sedikit lebih tumpul. Pemula selalu tertipu yang ketiga." Tangan tua itu gemetar di udara, tapi pikiran di baliknya setajam pisau cukur. Reza sadar Pak Gun adalah perpustakaan berjalan, dan perpustakaan itu sedang sekarat.
Joko membuktikan dirinya di jalan. Suatu malam ia membawa Reza berkeliling kawasan Sentral Garda dengan mobil tua yang tampak tidak berbahaya, tapi mesinnya mendengung berbeda. "Tiga rute keluar," kata Joko, sambil menyetir santai. "Yang utama lewat jalan tol, cepat tapi banyak kamera. Yang kedua lewat pasar, lambat tapi ramai, susah dilacak. Yang ketiga..." Ia menyeringai, membelokkan mobil ke sebuah gang yang tampak buntu, lalu pada detik terakhir mobil meliuk masuk ke celah yang nyaris tidak terlihat antara dua gedung. "Yang ketiga cuma aku yang tahu." Jantung Reza berdebar, tapi tangan Joko di setir tidak pernah goyah. Sopir sejati bukan yang berani ngebut, tapi yang tahu kapan harus pelan.
Lalu ada orang kelima. Mata Tuan B.
Ia datang di pertemuan kedua, diperkenalkan oleh Hendra sebagai Sigit. Laki-laki bertubuh besar, pendiam, mata datar yang tidak pernah menunjukkan apa yang ia pikirkan. "Sigit ahli keamanan," kata Hendra. "Dia tahu cara penjaga berpikir, cara mereka bergerak, di mana titik buta mereka. Dan dia akan menjadi tangan tambahan kalau keadaan jadi keras."
Tangan tambahan kalau keadaan jadi keras. Reza tidak suka kalimat itu. Pekerjaan yang ia rencanakan adalah pekerjaan yang tidak boleh ada keras-kerasnya. Masuk diam, keluar diam, tidak ada yang tahu sampai berhari-hari kemudian. Membawa orang yang tugasnya untuk saat keadaan jadi keras adalah seperti membawa korek ke gudang bensin sambil berjanji tidak akan menyalakannya.
Malam itu, setelah yang lain pulang, Nina mendekati Reza. "Aku menggali sedikit soal Sigit," bisiknya. "Dia bukan ahli keamanan. Aku menemukan wajahnya di tiga laporan yang seharusnya tidak ada. Dia tukang bersih, Za. Orang yang dikirim untuk membereskan sisa setelah pekerjaan selesai. Dan kamu tahu apa yang dibereskan tukang bersih."
Reza tahu. Tukang bersih tidak membereskan ruangan. Mereka membereskan orang.
Ia memandang keluar jendela bengkel, ke arah kota yang berkedip. Timnya sudah lengkap. Empat pisau yang ia pilih sendiri, dan satu pisau yang diselipkan diam-diam ke dalam sarung yang sama. Ia tahu, sejak Sigit melangkah masuk, bahwa pekerjaan ini tidak akan berakhir dengan semua orang pulang. Pertanyaannya bukan apakah akan ada pengkhianatan. Pertanyaannya adalah siapa yang akan dikhianati lebih dulu, dan apakah Reza cukup cepat untuk menjadi yang terakhir berdiri.
Ia memutuskan satu hal malam itu, hal yang tidak ia katakan pada siapa pun. Ia akan menjalankan pekerjaan Tuan B. Tapi ia juga akan menyiapkan pekerjaannya sendiri, di balik pekerjaan itu. Rencana di dalam rencana. Karena satu-satunya cara selamat dari sebuah tim yang penuh pisau adalah dengan menjadi orang yang tahu di mana semua pisau itu disimpan.