Reza menyewa sebuah gudang kosong di pinggir kota dan, dalam dua minggu, membangun tiruan kasar dari koridor bawah tanah Sentral Garda. Dinding triplek menggantikan beton, garis lakban di lantai menandai posisi sensor. Mereka berlatih bukan untuk pamer, tapi untuk membuat tubuh menghafal apa yang mungkin tidak sempat dipikirkan otak saat malam sungguhan. Latihan adalah cara mengubah keberanian yang rapuh menjadi gerak yang otomatis.
Percobaan pertama gagal total. Joko terlambat tiga puluh detik di titik masuk. Nina butuh waktu dua kali lipat dari perkiraan untuk menonaktifkan sensor latihan. Dan Reza, yang seharusnya membuka roda dalam delapan menit, butuh dua belas. Tangannya tidak setenang dulu. Lima tahun jadi montir telah membuat jari-jarinya kuat tapi kasar, dan brankas tidak suka tangan kasar.
"Lagi," kata Reza, mengusap keringat. "Dari awal."
Mereka mengulang. Sepuluh kali. Lima belas kali. Pak Gun memandu dari kursinya, suaranya serak tapi tidak pernah lelah. "Yang ketiga berbohong, Nak. Dengarkan. Kamu terlalu cepat di yang ketiga." Perlahan, angka Reza membaik. Sepuluh menit. Sembilan. Tangannya mulai mengingat. Tubuhnya mulai percaya.
Di sela istirahat, saat yang lain menjauh, Pak Gun memanggil Reza mendekat ke kursi rodanya. Ia menatap brankas latihan itu dengan tatapan aneh, campuran sayang dan benci yang hanya dimiliki orang yang menghabiskan hidup bersama satu benda. "Brankas yang asli, Gunung itu, aku belum cerita semuanya, Nak," katanya pelan. "Belum waktunya. Tapi ingat yang aku bilang waktu itu: tiap brankas tua punya satu rahasia yang cuma dibawa satu orang. Gunung juga. Dan kalau saatnya tiba, aku ingin kamu yang membawanya, bukan yang lain. Bukan Tuan B. Bukan orangnya. Kamu." Ia menepuk punggung tangan Reza. "Tapi belum sekarang. Rahasia diberikan di saat yang tepat, atau ia jadi racun." Reza ingin bertanya lebih jauh, tapi Joko sudah memanggil dari ujung gudang, dan momen itu lewat seperti angin di bawah pintu.
Pada percobaan kesembilan belas, datang halangan yang tidak ada dalam rencana siapa pun.
Pak Gun terbatuk di tengah latihan, batuk yang berbeda dari biasanya. Wajahnya memucat, lalu membiru. Tangannya mencengkeram dada. "Pak!" Reza berlari, menangkap tubuh tua itu sebelum tergelincir dari kursi roda. Joko sudah menelepon, tapi Pak Gun mencengkeram lengan Reza, menggeleng kuat.
"Jangan... rumah sakit," desisnya. "Mereka akan... bertanya. Catatan. Polisi." Ia terengah. "Obatku... di tas. Kantong dalam."
Nina menemukan tas itu, mengeluarkan sebotol kecil pil. Pak Gun menelan dua, menutup mata, dan perlahan warnanya kembali. Tapi semua orang di gudang itu sudah melihat hal yang tidak bisa dilihat kembali: ahli brankas mereka, kepala dari seluruh operasi, bisa mati kapan saja. Mungkin sebelum hari H. Mungkin di tengahnya.
"Kita harus ganti dia," kata Sigit, yang sejak tadi berdiri di sudut, datar seperti biasa. "Dia beban. Kalau dia kolaps di bawah tanah, dia menyeret kita semua."
"Dia tidak akan ikut sampai bawah," kata Reza tajam. "Dia di lantai mekanikal, memandu lewat telinga. Aku yang turun. Tanpa kepalanya, tidak ada satu pun dari kita yang bisa membuka roda itu."
"Lalu pindahkan kepalanya ke kepalamu," kata Sigit. "Belajar lebih cepat."
Reza menahan diri untuk tidak menghantam wajah datar itu. Tapi di balik kemarahannya, ia tahu Sigit benar tentang satu hal: ketergantungan pada Pak Gun adalah titik lemah terbesar dalam rencana. Kalau orang tua itu jatuh, semuanya jatuh. Dan ada satu hal lagi yang Sigit tidak tahu, yang membuat Reza lebih takut: Pak Gun menyimpan sesuatu tentang Gunung yang belum ia bagikan. Kalau jantung itu berhenti sebelum waktunya, rahasia itu ikut mati.
Malam itu, setelah yang lain pulang, Pak Gun memanggil Reza ke sampingnya. Wajahnya masih lelah, tapi matanya jernih. "Aku tahu apa yang kamu pikirkan, Nak. Kamu pikir aku tidak akan sampai garis akhir."
"Saya tidak—"
"Jangan bohong ke orang yang sebentar lagi mati. Itu tidak sopan." Pak Gun tersenyum tipis. "Dengar. Aku akan ajari kamu semua yang aku tahu dalam waktu yang tersisa. Tapi ada satu hal yang harus kamu janji. Kalau aku jatuh di tengah pekerjaan, kamu tinggalkan aku. Jangan menyeret tubuhku. Jangan korbankan tim untuk daging tua yang sudah selesai. Janji."
Reza tidak menjawab. Ia tidak bisa berjanji untuk meninggalkan orang yang mengajarinya melihat dunia lewat ujung jari.
"Janji, Reza."
"Saya akan usahakan tidak sampai ke situ."
Pak Gun menatapnya lama, lalu mengangguk pelan, paham bahwa itu satu-satunya jawaban yang akan ia dapat. "Kamu terlalu baik untuk pekerjaan ini. Itu yang akan membunuhmu suatu hari. Bukan brankas. Bukan polisi. Hatimu."
Di akhir minggu itu, mereka mengulang latihan untuk terakhir kalinya. Reza membuka roda dalam tujuh menit empat puluh detik. Nina menonaktifkan sensor tepat waktu. Joko menempatkan mobil di setiap titik tanpa cacat. Di atas kertas dan di gudang triplek, rencana itu sempurna.
Tapi Reza tahu sesuatu yang tidak diketahui kertas. Ia melihat cara Sigit memperhatikan setiap orang, mengukur, seperti orang yang menghafal letak barang yang akan ia ambil nanti. Ia melihat batuk Pak Gun. Ia melihat tangan Joko yang gemetar bukan karena takut gagal, tapi karena takut pulang ke anaknya dengan cara yang salah. Dan ia melihat Nina, yang akhir-akhir ini terlalu sering menutup layarnya cepat-cepat setiap Reza mendekat, seakan ada sesuatu yang ia kerjakan diam-diam.
Latihan sudah selesai. Tapi yang sebenarnya diuji bukan tangan mereka. Yang sebenarnya diuji adalah seberapa dalam masing-masing dari mereka menyembunyikan rahasia, dan seberapa lama rahasia itu bisa bertahan sebelum hari H membongkar semuanya.